TELUK PANDAN – Pemerintah Kabupaten Kutai Timur (Kutim) melanjutkan program cetak sawah untuk memperkuat produksi pangan dan mengejar target swasembada beras. Hampir 600 hektare lahan akan kembali dikerjakan tahun ini setelah sekitar 400 hektare dari target awal 1.106 hektare berhasil dicetak hingga akhir tahun lalu.
Kepala Bidang Prasarana dan Sarana Pertanian Dinas Tanaman Pangan, Hortikultura dan Peternakan (DTPHP) Kutim, Bohari, mengatakan pekerjaan lanjutan telah memasuki tahap awal pelaksanaan setelah kontrak ditandatangani sekitar dua pekan lalu.
“Yang dilanjutkan hampir 600 hektare. Kontraknya sekitar tiga bulan dan diusahakan selesai dalam waktu tersebut,” ujar Bohari.
Lahan pengembangan tersebar di sejumlah wilayah, antara lain Bengalon, Busang, Sandaran, Susuk, Kaubun dan Kombeng. Namun, sebagian lokasi tidak dapat dikerjakan karena terkendala perizinan serta kondisi topografi.
Sebelum pembangunan dilakukan, pemerintah memastikan kelayakan lahan melalui survei investigasi dan desain (SID). Program tersebut mendapat dukungan anggaran pemerintah pusat melalui APBN, termasuk pendampingan lintas sektor dan keterlibatan TNI di lapangan.
DTPHP Kutim juga mengusulkan tambahan hampir 700 hektare untuk program cetak sawah tahun depan. Usulan itu telah melalui tahap verifikasi.
Bohari mengatakan keberhasilan program sangat bergantung pada kesinambungan antara pembukaan lahan dan aktivitas tanam. Jika lahan segera ditanami, produksi beras daerah dapat meningkat secara bertahap.
Produktivitas sawah Kutim saat ini rata-rata lebih dari 3,5 ton gabah per hektare per musim. Di Kaubun, hasil panen bahkan pernah mendekati 6 ton per hektare.
Namun, petani masih menghadapi persaingan dengan sektor sawit yang memiliki pasar lebih pasti. Persoalan penyerapan gabah juga menjadi perhatian karena petani terkadang kesulitan menjual hasil panen.
Untuk mengatasinya, Pemkab Kutim mendorong pembangunan gudang atau fasilitas Bulog. Pemerintah berharap fasilitas tersebut dapat menjadi penyangga harga sekaligus memperkuat kepastian pasar bagi petani padi. (ADV/ProkopimKutim/KR)












