SANGATTA — Program Peningkatan Kapasitas Sumber Daya Layanan bagi Perempuan Kepala Keluarga (PEKA) yang digagas Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (DPPPA) Provinsi Kalimantan Timur (Kaltim) membuka ruang baru bagi perempuan kepala keluarga di Kutai Timur (Kutim) untuk berkembang. Bertema “Memberdayakan Perempuan Kepala Keluarga untuk Menjadi Agen Perubahan”, kegiatan ini dirancang untuk memperkuat kemandirian perempuan dalam mengakses layanan sosial, ekonomi, dan perlindungan hukum.
Acara dibuka oleh Asisten Pemerintahan dan Kesejahteraan Rakyat (Pemkesra) Sekretariat Kabupaten Kutim, Poniso Suryo Renggono, yang menegaskan pentingnya kesetaraan dan pengarusutamaan gender dalam pembangunan daerah.
“Perjuangan mewujudkan kesetaraan gender adalah tanggung jawab bersama. Perempuan memiliki hak yang sama dalam perlindungan, akses layanan, dan pengambilan keputusan di ruang publik,” ujar Poniso.
Ia juga mengapresiasi semangat para peserta dan mendorong mereka untuk aktif berorganisasi, mengembangkan usaha mandiri, serta memperkuat solidaritas antarsesama perempuan. “Peran ganda perempuan kepala keluarga memang tidak mudah, tapi saya yakin mereka mampu menjadi agen perubahan di tengah masyarakat,” tambahnya.
Ketua panitia, Fahmi Rojano, dalam laporannya menyoroti pentingnya peningkatan Indeks Pembangunan Gender (IPG) di Kalimantan Timur. Ia menilai kesetaraan peran perempuan dan laki-laki masih perlu diperkuat agar pembangunan benar-benar inklusif. “Pembangunan diukur dari infrastruktur, dan juga dari keseimbangan peran dalam masyarakat yang menjadi indikator penting menuju keadilan dan daya saing,” ujarnya.
Program PEKA yang didanai APBD Provinsi Kaltim ini adalah bagian dari strategi besar memperkuat posisi perempuan, khususnya kepala keluarga, dalam sektor ekonomi dan sosial. Kegiatan ini merujuk pada Instruksi Presiden Nomor 9 Tahun 2000 tentang pengarusutamaan gender dalam pembangunan.
Sebanyak 100 peserta mengikuti kegiatan, mewakili organisasi perempuan seperti GOW, Aisyiyah, dan KPPI. Dua narasumber utama, Windi Farmawati dari PEKKA Samarinda dan Maghdalena dari Yayasan PEKKA Jakarta, berbagi pengalaman tentang strategi pemberdayaan perempuan di tingkat akar rumput.
Diskusi interaktif di akhir acara menghadirkan suasana akrab dan inspiratif. Para peserta saling berbagi cerita, ide, dan tekad untuk menjadi penggerak di lingkungannya masing-masing.
Program PEKA adalah ruang yang menyalakan kembali semangat perempuan Kutim untuk bangkit, mandiri, dan berdaya. “Perempuan adalah subjek perubahan yang membawa masa depan lebih setara dan sejahtera,” tutup Poniso penuh keyakinan. (ADV/ProkopimKutim/K)












