
SANGATTA – Dinas Pemadam Kebakaran dan Keselamatan (Damkar) Kutai Timur (Kutim) menetapkan strategi baru untuk mempercepat penanganan kebakaran, yaitu dengan menempatkan minimal dua pos di setiap kecamatan. Pos satu sebagai pemadam utama (fire) dan pos dua untuk penyuplai air (water supply). Strategi ini dirancang untuk memastikan respons cepat dan operasi pemadaman lebih efektif.
Kepala Damkar Kutim, Failu, menjelaskan peran berbeda kedua pos tersebut. Pos “fire” langsung menangani api, sementara pos “water supply” memastikan aliran air tetap lancar selama operasi pemadaman. “Kalau setiap kecamatan itu sebenarnya minimal satu pos itu dua, ada namanya fire, ada yang namanya water supply, jadi pada saat dia nyemprot ada yang supply seperti itu,” ujarnya.
Namun, penerapan standar ideal ini masih terkendala keterbatasan SDM. Failu menyebut pihaknya tengah memanfaatkan skema tenaga non-ASN melalui Pegawai Pemerintah dengan Perjanjian Kerja (PJLP) untuk menutupi kekurangan personel. “Nah ada peluang itu di PJLP itu. Nah cuma tadi kan kita masih, itu tadi disuruh usulkan apa semua nanti kita bicarakan,” tambahnya.
Meski demikian, proses pengisian tenaga tetap harus melalui prosedur resmi dan SK Bupati sebelum penempatan dapat dilakukan. “Itu kan harus ada surat keputusan dari bupati kalau kalo itu,” pungkas Failu.
Strategi dua pos pemadam di setiap kecamatan ini menunjukkan upaya serius Damkar Kutim memaksimalkan penanganan kebakaran, meski realisasinya menunggu kelengkapan SDM dan mekanisme birokrasi. (ADV)













