Kutai Timur – Dewan Pimpinan Cabang (DPC) Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI) Kabupaten Kutai Timur akhirnya mengakhiri konflik dualisme kepemimpinan yang berlangsung sekitar sembilan bulan. Rekonsiliasi ini menjadi langkah strategis menjelang pelaksanaan Konferensi Cabang (KONFERCAB) ke-IX.
Kesepakatan damai mempertemukan dua kubu kepengurusan, yakni DPC GMNI Kutai Timur di bawah kepemimpinan Deo Datus Feran Kacaribu dan DPC GMNI Kutim Raya yang dipimpin Dimas Irawan. Keduanya sepakat melebur kembali dalam satu kepengurusan demi menjaga soliditas organisasi.
Kesepakatan tersebut dituangkan dalam Surat Pernyataan Terbuka Nomor 001/Ist/GMNI.KUTIM/IV/2026 yang memuat empat poin utama, di antaranya penegasan bahwa dualisme kepemimpinan harus diakhiri secara sah dan konstitusional, serta larangan terhadap segala bentuk keberlanjutan kepemimpinan ganda.
Selain itu, seluruh pihak diwajibkan tunduk pada hasil rekonsiliasi yang dinyatakan sebagai keputusan final organisasi. Setiap upaya penolakan terhadap hasil tersebut dinilai bertentangan dengan disiplin dan etika organisasi. Dengan ditandatanganinya kesepakatan itu, GMNI Kutai Timur resmi kembali menjadi satu kesatuan.
Ketua DPC GMNI Kutai Timur, Deo Datus Feran Kacaribu, menyebut rekonsiliasi ini sebagai langkah penting untuk memastikan stabilitas organisasi menjelang forum tertinggi di tingkat cabang.
“Menjelang KONFERCAB ke-IX, kita sepakat tidak meninggalkan konflik di akhir masa kepengurusan. Maka dari itu, kami berdiskusi panjang dengan Bung Dimas selaku Ketua DPC GMNI Kutim Raya hingga mencapai kesepakatan ini,” ujarnya usai pelaksanaan rekonsiliasi pada Selasa (7/4/2026).
Ia menambahkan, penyatuan kembali organisasi diharapkan mampu memperkuat kaderisasi dan arah gerakan GMNI ke depan.
“Kita berharap dengan adanya semangat rekonsiliasi ini, akan selaras juga dengan semangat membangun anggota dan kader GMNI Kutim, serta menjaga api semangat gerakan kita,” tambahnya.
Hal senada disampaikan Ketua DPC GMNI Kutim Raya, Dimas Irawan. Ia menegaskan bahwa konsolidasi menjadi kunci utama dalam menjaga eksistensi organisasi di tengah dinamika zaman.
“Konsolidasi organisasi merupakan fondasi utama dalam menjaga kekuatan, persatuan, dan keberlanjutan perjuangan GMNI sebagai organisasi kader dan organisasi perjuangan. Di tengah dinamika sosial, politik, dan tantangan zaman yang terus berkembang, seluruh kader GMNI dituntut untuk memperkuat soliditas internal, mempererat komunikasi, serta membangun kesamaan pandang dalam menjalankan garis perjuangan organisasi,” ungkapnya.
Dimas juga menilai rekonsiliasi ini sebagai momentum untuk menguatkan kembali nilai-nilai perjuangan yang berlandaskan ajaran Soekarno.
“Melalui rekonsiliasi ini, setiap kader diharapkan mampu menumbuhkan semangat gotong royong, disiplin organisasi, dan loyalitas terhadap cita-cita perjuangan yang berlandaskan ajaran Soekarno. Konsolidasi juga menjadi ruang evaluasi, pembenahan, dan penguatan langkah strategis agar organisasi tetap relevan dalam menjawab persoalan daerah,” pungkasnya.












