KONGBENG – Desa Miau Baru, Kecamatan Kongbeng, kembali menjadi pusat perhatian lewat perayaan Festival Budaya Kayan UFAH yang menampilkan sembilan tarian otentik Kayan Umaq Lekan. Belum lama ini, desa adat tersebut menjelma menjadi panggung megah tempat para penari menuturkan kisah leluhur lewat gerak, irama, dan busana tradisional yang memukau.
Setiap hentakan kaki dan liukan tangan menjadi wujud syukur serta refleksi atas siklus kehidupan masyarakat Kayan. Festival ini menjadi upaya nyata menjaga eksistensi budaya lokal di tengah perubahan zaman yang cepat.
Setiap tarian memiliki keterkaitan satu sama lain, menceritakan kisah dan nilai-nilai yang dipegang teguh oleh masyarakat adat. Hadirnya masyarakat adat, tokoh budaya, dan wisatawan yang antusias menunjukkan betapa pentingnya perhelatan ini bagi pelestarian budaya.
Tarian-tarian yang memikat tersebut meliputi Tarian Hudoq Aruq atau Bateang Bu-eang, ungkapan syukur atas hasil panen; Hudoq Kitaq, yang melambangkan Dewi Padi sebagai sumber kehidupan; serta Hifan Sau dan Hifan Seang, tarian pria dan wanita yang merayakan kemenangan dalam upacara adat. Selain itu, ada pula Jat Alat, yang ditampilkan pascapanen sebagai simbol kehidupan baru; Hudoq Kap / Kusap Nga-eang, tarian sakral dengan topeng kulit kayu; dan Hudoq Kuhau, tarian untuk mengusir hama dan penyakit tanaman. Dua tarian lainnya, Tingeang Urip (Enggang) dan Manuk Inuq, masing-masing melambangkan kebesaran, perdamaian, dan kemakmuran. Keindahan busana tradisional, iringan musik khas, dan gerak tari yang penuh makna menjadikan pertunjukan ini sarat nilai budaya.
Salah satu tokoh masyarakat adat menegaskan bahwa budaya adalah jati diri yang tak boleh hilang. “Budaya ini identitas kita. Tugas kita menjaga, melestarikan, dan mewariskannya kepada generasi muda agar tidak hilang dimakan zaman,” ujarnya.
Festival Budaya Kayan UFAH 2025 diharapkan menjadi wadah memperkuat rasa kebersamaan dan persatuan di kalangan masyarakat Kayan. Lebih dari itu, festival ini juga menjadi sarana memperkenalkan kekayaan budaya Kayan kepada publik yang lebih luas, sekaligus magnet wisata yang mendorong pertumbuhan ekonomi daerah.
Dengan demikian, Festival UFAH bukan semata perayaan budaya, tetapi juga perwujudan tekad masyarakat Kutai Timur menjaga akar tradisi sambil melangkah maju menghadapi masa depan. (ADV/ProkopimKutim/K)













