Sangatta — Maraknya aksi balap liar di Kutai Timur mendapat sorotan dari Komisi D DPRD. Anggota dewan, Yulianus Palangiran, mengungkapkan bahwa fenomena tersebut dipicu oleh tiga kelompok utama yang memiliki motivasi berbeda. Meski tidak banyak laporan resmi dari warga, ia menyebut kejadian balap liar kerap terlihat langsung di lapangan.
“Tidak ada laporan langsung dari warga, tapi selama ini yang kita lihat dan saya rasakan sendiri itu selalu dicegat oleh bapak-bapak kepolisian,” ujar Yulianus kepada awak media.
Ia menjelaskan bahwa kelompok pertama terdiri dari anak-anak muda yang melakukan balapan secara spontan dan bergerombol. Bagi mereka, balapan menjadi bentuk hiburan, euforia, dan cara melepaskan energi berlebih.
Kelompok kedua berasal dari komunitas modifikasi motor. Fokus mereka bukan hanya pada kecepatan, tetapi juga pada prestise teknis dan tampilan kendaraan. Balapan menjadi ajang pamer sekaligus uji coba atas hasil modifikasi yang telah dilakukan.
Sementara itu, kelompok ketiga lebih didorong oleh faktor gengsi dan dinamika sosial. Bagi mereka, balapan liar menjadi sarana untuk membangun dan mempertahankan reputasi di dalam komunitas atau geng.
“Balapan liar itu kan ada tiga yang bergandengan, yaitu kelompok para anak-anak muda, kelompok dengan modifikasi motor-motor khusus, dan kelompok karena gengsi,” jelas Yulianus.
Meski jarang dilaporkan secara resmi, ia mengakui bahwa aksi tersebut memang terjadi dan perlu ditangani secara serius.
“Secara otomatis pelaporan langsung di kejadian ada,” tambahnya.
Menanggapi situasi ini, Yulianus menekankan pentingnya langkah pencegahan yang terstruktur dan berkelanjutan. Ia berharap Kutai Timur dapat terbebas dari aksi balap liar yang membahayakan keselamatan dan ketertiban umum.
“Nah ini yang kita harus cegah ke depan. Kita usahakan Kutai Timur supaya jangan ada balapan liar lagi,” tutupnya. (ADV)













