SANGATTA — Khodijah Ummu Azhariyah, seorang santriwati yang masih berusia 7 tahun mencuri perhatian saat melantunkan hafalan Al-Qur’an tanpa melihat mushaf dalam kegiatan Khotmil Qur’an Bil Ghoib di Kantor DPRD Kutai Timur (Kutim), Selasa (18/8/2026). Ia menjadi peserta termuda yang tampil dalam agenda syiar Al-Qur’an tersebut.
Khodijah membacakan hafalan Juz 3 dengan suara jernih dan tenang di hadapan para tamu undangan. Santriwati TPA Ulil Albab Griya Dayung itu tampil tanpa terlihat gugup meski usianya belum genap delapan tahun.
Kegiatan yang berlangsung di Ruang Panel Kantor DPRD Kutim, Bukit Pelangi, tersebut digelar Sekretariat DPRD bersama Forum Masyarakat Qur’ani (FORMASYQUR) Kutim dalam rangkaian peringatan HUT ke-81 Kemerdekaan RI.
Selain Khodijah, Faradiba Nahla Alzena, 9 tahun, juga tampil menghafalkan Juz 4. Santriwati Baitul Qur’an Sangatta tersebut menunjukkan ketenangan dan ketepatan pelafalan ayat selama penampilan.
Ketua FORMASYQUR Kutim Jamaluddin mengatakan keberadaan penghafal cilik menjadi gambaran bahwa pendidikan Al-Qur’an dapat ditanamkan sejak usia dini.
“Kami ingin memantik semangat seluruh keluarga muslim di Kutai Timur,” ujar Jamaluddin.
Menurut dia, kemampuan anak-anak menghafal Al-Qur’an diharapkan mendorong keluarga lain mencetak generasi Qur’ani.
Kegiatan tersebut juga dirangkai dengan Mau’izzah Hasanah yang menghadirkan Habib Alwi Bin Hamid Bin Syihab, Guru Besar Ilmu Hadist Universitas Seiwun, Yaman sekaligus Pengasuh Pesantren Daarul Hadist.
Habib Alwi menekankan pentingnya Al-Qur’an sebagai fondasi pembentukan akhlak generasi muda. Ia menyebut syiar Al-Qur’an menjadi salah satu cara memaknai kemerdekaan dengan nilai spiritual. (ADV/ProkopimKutim/KR)













