TELEN – Pemerintah Kabupaten Kutai Timur (Kutim) memperkuat pencegahan stunting dengan mendatangi langsung keluarga yang masuk dalam kategori berisiko. Melalui Layanan Jemput Bola Stop Stunting pada Rabu, 26 Agustus 2026, Dinas Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana (DPPKB) Kutim memastikan data keluarga tidak berhenti sebagai catatan, tetapi menjadi dasar pemberian edukasi, pendampingan, dan intervensi yang sesuai.
Berdasarkan Sistem Informasi Keluarga (SIGA), terdapat 482 kepala keluarga (KK) di Kecamatan Telen yang tergolong keluarga berisiko stunting (KRS). Mereka tersebar di Muara Pantun dengan 148 KK, Juk Ayaq 98 KK, Lung Melah 75 KK, Nehes Marah Haloq 44 KK, Kernyanyan 43 KK, Long Noran 39 KK, Long Segar 18 KK, dan Rantau Panjang 17 KK.
Plh Kepala DPPKB Kutim Yuriansyah T mengatakan data menjadi pijakan awal untuk menentukan keluarga yang perlu memperoleh perhatian. DPPKB berperan mengidentifikasi faktor risiko, sedangkan penanganan anak yang telah mengalami stunting menjadi kewenangan Dinas Kesehatan.
Menurut Yuriansyah, risiko stunting tidak hanya berkaitan dengan asupan makanan. Kondisi air bersih, sanitasi, rumah tinggal, keadaan balita, tingkat kesejahteraan keluarga, dan penggunaan kontrasepsi juga perlu diperhatikan secara bersamaan.
Hal itu terlihat ketika petugas mengunjungi keluarga Rima di Desa Muara Pantun dan menemukan anak dengan kondisi kekurangan energi kronis. Temuan tersebut menunjukkan pentingnya penilaian langsung terhadap kondisi keluarga agar intervensi tidak disamaratakan.
Dalam kegiatan yang dipusatkan di Aula Kantor Camat Telen, Desa Juk Ayaq, DPPKB juga menyalurkan Pemberian Makanan Tambahan dari Baznas Kutim untuk periode Juni hingga Agustus. Distribusi berikutnya akan diteruskan melalui PLKB Kecamatan Telen. Edukasi KRS dan perkembangan Gerakan Orang Tua Asuh Cegah Anak Stunting juga turut disampaikan.
Melalui pendekatan tersebut, Pemkab Kutim berupaya memastikan keluarga berisiko memperoleh penanganan sedini mungkin. Verifikasi data dan pendampingan berkelanjutan diharapkan membuat intervensi lebih tepat sasaran serta mempercepat penurunan risiko stunting di Telen. (ADV/ProkopimKutim/KR)













