MUARA BENGKAL — Pemerintah Kabupaten Kutai Timur (Kutim) mengambil langkah nyata menekan penyebaran Tuberkulosis (TBC) dengan mendekatkan layanan kesehatan ke masyarakat pedesaan. Melalui Dinas Kesehatan dan dukungan District Public Private Mix (DPPM), program Active Case Finding (ACF) digelar dengan layanan radiografi toraks keliling di sejumlah kecamatan.
Kepala Dinas Kesehatan Kutim, dr Bahrani Hasanal, menegaskan pentingnya deteksi dini.
“Satu penderita TBC bisa menulari hingga sepuluh orang. Jika tidak ditangani sekarang, target eliminasi TBC tahun 2030 hanya akan jadi wacana,” ujarnya.
Kegiatan ini dilaksanakan serentak di 13 kecamatan, termasuk Muara Bengkal dan Kongbeng, yang selama ini menghadapi keterbatasan fasilitas kesehatan.
Menurut data Kementerian Kesehatan, Indonesia menempati posisi kedua dunia dengan estimasi lebih dari 1,09 juta kasus TBC per tahun. Dari jumlah itu, Kutai Timur mencatat 470 kasus yang berhasil ditemukan dari target sekitar 1.475 penderita pada tahun berjalan — sekitar seperempatnya merupakan anak-anak.
Kondisi ini menunjukkan bahwa penanganan TBD tidak bisa ditunda lagi. Karena itu, layanan toraks digital di desa menjadi langkah maju dalam deteksi TBC.
“Dengan teknologi ini, infeksi bisa dideteksi bahkan sebelum gejala parah muncul. Ini menyelamatkan banyak nyawa,” tutur dr Ivan Hariyadi, Kepala Seksi P2PM Dinas Kesehatan Provinsi Kaltim.
Ketua DPPM Kutim sekaligus Ketua TP PKK, Ny Hj Siti Robiah, turut turun langsung mendampingi kegiatan. Ia mengajak para kader PKK dan perangkat desa menggelar edukasi dari rumah ke rumah.
“Jangan biarkan masyarakat hanya tahu TBC dari cerita orang. Kita bawa faktanya dan ajarkan pencegahannya,” tegasnya.
Sebagai bentuk dukungan moral, ia juga membagikan Pemberian Makanan Tambahan (PMT) bagi warga yang mengikuti pemeriksaan. Antusiasme masyarakat tinggi — lebih dari 200 warga menjalani pemeriksaan dalam satu hari.
Camat Muara Bengkal, Nur Hadi, menilai kegiatan ini membangkitkan kesadaran baru.
“Artinya masyarakat mulai peduli. Kalau kegiatan seperti ini berlanjut setiap tahun, hasilnya akan luar biasa,” katanya.
Bagi pemerintah, perang melawan TBC bukan sekadar program kesehatan, tetapi perjuangan memastikan hak warga untuk hidup sehat di mana pun mereka tinggal.
Dan dari balik tenda pemeriksaan sederhana itu, Kutai Timur menyalakan harapan: bahwa Indonesia bebas TBC bisa dimulai dari desa. (ADV/ProkopimKutim/K)












