
Kutai Timur — Upaya Pemerintah Kabupaten Kutai Timur (Kutim) menekan angka stunting mulai menunjukkan hasil positif. Berdasarkan Survei Kesehatan Indonesia (SKI), angka stunting di Kutim menurun dari 29 persen menjadi sekitar 26 persen.
Kepala Dinas Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana (DPPKB) Kutim, Achmad Junaidi, menjelaskan bahwa penurunan ini merupakan hasil kerja lintas sektor yang menargetkan pencegahan dari hulu.
“Kalau kita gabungkan dengan kategori gizi sangat buruk atau severely underweight, totalnya sekitar 26 persen. Ada penurunan 2–3 persen dibanding tahun sebelumnya,” ujarnya.
Selain itu, jumlah keluarga berisiko stunting di Kutim juga menurun signifikan dari 19 ribu menjadi sekitar 11 ribu keluarga. Kecamatan Sangatta Utara masih tercatat memiliki jumlah tertinggi, yakni sekitar 3.800 keluarga.
Menurut Junaidi, penanganan stunting tidak cukup hanya dengan intervensi gizi, tetapi juga melalui edukasi dan peningkatan kualitas keluarga. Karena itu, DPPKB terus memperkuat penyuluhan bagi pasangan usia subur (PUS) 4T — terlalu muda, terlalu tua, terlalu dekat jarak kelahiran, dan terlalu banyak anak.
“Fokus kami menekan dari hulu. Artinya, sebelum lahir, kondisi keluarga harus sudah siap dan sehat,” tegasnya.
Selain program keluarga berencana dan edukasi gizi, DPPKB juga bersinergi dengan program Seribu Rumah Layak Huni untuk memastikan keluarga berisiko stunting memiliki akses terhadap sanitasi, air bersih, dan tempat tinggal yang sehat.
Sementara itu, di bidang peningkatan kualitas hidup lansia, DPPKB Kutim tengah menyiapkan program Sekolah Lansia dengan metode jemput bola yang akan menempel di SKB, PKBM, dan LKP. Program ini diharapkan menjadi wadah pembelajaran dan produktivitas tanpa batas usia. (ADV)













