Kutai Timur – Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Kutai Timur terus meningkatkan kesiapsiagaan menghadapi potensi bencana dengan mengoperasikan Warning Receiver System (WRS). Perangkat ini berfungsi menerima informasi terkait gempa bumi dan potensi tsunami secara cepat, sehingga dapat menjadi sarana peringatan dini bagi masyarakat di wilayah Kutai Timur.
Sekretaris BPBD Kutai Timur, Zaenal Abidin, mengatakan bahwa keberadaan teknologi tersebut menjadi langkah penting dalam upaya mitigasi bencana di daerah. Ia menilai tidak semua wilayah di Indonesia memiliki akses terhadap perangkat peringatan dini seperti WRS.
“Kutai Timur kini telah memiliki alat informasi gempa. Tidak semua daerah memiliki alat tersebut. Dengan hadirnya WRS, masyarakat akan lebih mudah mengakses informasi sistematik mengenai aktivitas gempa, terutama yang berdampak pada daerah kita,” ujar Zaenal.
Ia menambahkan, sistem tersebut mampu mendeteksi getaran dengan cepat sehingga BPBD dapat segera melakukan langkah responsif untuk memberi peringatan kepada masyarakat.
“Begitu ada getaran yang terdeteksi oleh sistem, akan langsung terlihat. Hal ini memudahkan kami untuk memberikan sinyal waspada kepada masyarakat dalam waktu yang sangat singkat,” tambahnya.
Zaenal juga mengungkapkan bahwa jumlah perangkat WRS di Kalimantan Timur masih terbatas. Saat ini, Kutai Timur hanya memiliki dua unit alat tersebut, salah satunya ditempatkan di kantor BPBD.
“Hanya ada dua unit di Kutai Timur, salah satunya di kantor BPBD ini. Alat ini juga diprioritaskan untuk daerah-daerah perbatasan antarprovinsi guna memperkuat jaringan pemantauan nasional,” jelasnya.
Sementara itu, operator WRS BPBD Kutai Timur, Masykury, menjelaskan bahwa sistem yang digunakan tidak hanya memantau aktivitas gempa, tetapi juga berbagai indikator cuaca ekstrem yang berpotensi menimbulkan bencana.
“Kami memantau potensi kebencanaan di 18 kecamatan, yang mencakup 140 desa, 2 kelurahan, hingga desa persiapan. Selain getaran, kami juga mendeteksi parameter cuaca seperti curah hujan dan kecepatan angin. Dari sini, kita bisa memetakan secara presisi di mana saja titik-titik yang masuk kategori rawan bencana,” ungkap Masykury.
Untuk memastikan informasi kebencanaan tersampaikan dengan cepat dan akurat kepada masyarakat, BPBD Kutai Timur juga membangun sistem komunikasi melalui Tim Reaksi Cepat (TRC) Multisektor yang tersebar di berbagai kecamatan.
“Kami telah membentuk gugus tugas. Semua data bencana yang masuk akan diteruskan langsung ke Tim TRC Multisektor yang bersiaga di 18 kecamatan. Masyarakat juga diimbau untuk selalu melakukan cross-check melalui website resmi BPBD untuk mendapatkan pembaruan kondisi kebencanaan secara akurat di Kutai Timur,” pungkasnya.
Melalui pemanfaatan WRS ini, BPBD Kutai Timur berharap sistem kesiapsiagaan bencana di daerah semakin kuat sehingga potensi kerugian materi maupun korban jiwa dapat diminimalkan.












