SANGATTA — Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kutim bekerja sama dengan Pusat Studi Lingkungan Hidup dan Sumber Daya Alam (PSLH-SDA) LP2M Universitas Mulawarman (Unmul) Samarinda menggelar Focus Group Discussion (FGD) Tahap II di Pelangi Room, Hotel Royal Victoria, belum lama ini. Kegiatan tersebut menjadi bagian dari rangkaian penyusunan RIP KEHATI untuk menghimpun masukan lintas sektor sebelum dokumen final disahkan.
Acara dibuka oleh Asisten Ekonomi dan Pembangunan Setkab Kutim, Noviari Noor, yang menegaskan pentingnya dokumen ini sebagai panduan utama dalam pengelolaan keanekaragaman hayati di Kutai Timur. “RIP KEHATI diharapkan menjadi instrumen penting pengelolaan keanekaragaman hayati secara terpadu, serta menjadi pedoman bagi sektor swasta dan perusahaan dalam mengelola keanekaragaman hayati sesuai Instruksi Presiden,” paparnya.
Ia menjelaskan bahwa penyusunan RIP KEHATI dilakukan secara sistematis, mulai dari pengumpulan data, analisis, perumusan visi-misi, hingga integrasi dengan RPJMD Kutim. Dokumen ini akan menjadi landasan kebijakan bersama dalam menjaga keseimbangan ekosistem di seluruh wilayah. “Rencana induk ini menjadi bagian penting dalam mengintegrasikan dokumen perencanaan lainnya sesuai amanah undang-undang. Kita cermati apa yang kurang, kita sempurnakan,” jelas Noviari.
Lebih lanjut, ia mencontohkan bahwa keberadaan buaya badas di Long Mesangat dan tanaman langka di Taman Nasional Kutai (TNK) menjadi perhatian utama dalam rencana konservasi. “Semua sektor akan bersinggungan dengan keanekaragaman hayati — mulai dari infrastruktur, sosial, hingga kegiatan masyarakat,” tuturnya.
Sementara itu, Kepala DLH Kutim Aji Widhaya Effendi selaku Ketua Panitia FGD menjelaskan bahwa RIP KEHATI disusun sebagai dokumen rencana jangka menengah selama lima tahun. Dokumen ini akan menjadi kerangka acuan pengelolaan keanekaragaman hayati secara terarah, terukur, dan berkelanjutan. “Pemerintah daerah wajib memiliki rencana induk yang memberikan gambaran dan arah kebijakan dalam pengelolaan sumber hayati, agar pelaksanaannya berjalan efisien dan tepat sasaran,” ucap Aji.
Ia menambahkan, penyusunan RIP KEHATI ini merupakan inisiatif swadaya DLH Kutim yang bekerja sama dengan LP2M Unmul dengan target penyelesaian empat bulan. “Output kegiatan ini adalah dokumen RIP KEHATI yang berisi basis data dan master plan pengelolaan keanekaragaman hayati Kutim,” imbuhnya.
FGD diikuti oleh 55 peserta dari unsur pemerintah daerah, akademisi, kecamatan, dan pelaku pembangunan. Para peserta memberikan saran dan masukan untuk memperkaya substansi dokumen agar lebih komprehensif dan aplikatif. “Kami membutuhkan masukan dari seluruh pihak agar dokumen ini tersusun dengan baik dan benar-benar menjadi panduan pembangunan berkelanjutan di Kutai Timur,” pungkas Aji.
Dengan penyusunan RIP KEHATI, Kutai Timur menegaskan langkahnya sebagai daerah yang visioner — membangun tanpa merusak, tumbuh tanpa melupakan akar ekologinya. Inilah wujud nyata komitmen pemerintah dan masyarakat dalam menjaga bumi untuk generasi mendatang.(ADV/ProkopimKutim/K)












