SANGATTA — Antusiasme warga terlihat di berbagai titik pelaksanaan Gerakan Pangan Murah yang digelar Pemerintah Kabupaten Kutai Timur. Program yang merupakan bagian dari upaya nasional menstabilkan harga kebutuhan pokok ini berlangsung serentak di tiga titik utama: Sangatta Utara, Sangatta Selatan, dan satu titik tambahan di depan Kantor Camat Sangatta Selatan (melalui dukungan Dinas Perindagkop Provinsi Kaltim).
Asisten Bidang Ekonomi dan Pembangunan (Ekobang) Setkab Kutim, Noviari Noor, menyampaikan bahwa GPM bukan hanya kegiatan penyaluran sembako murah, tetapi bentuk nyata kolaborasi lintas sektor antara pemerintah daerah, kepolisian, Bulog, serta Pemerintah Provinsi Kaltim.
“Untuk Kutai Timur, semua titik menyalurkan bahan pokok dengan harga yang jauh lebih terjangkau dibandingkan harga pasar. Ini adalah bukti hadirnya pemerintah di tengah masyarakat,” ungkapnya.
Pelaksanaan GPM di Sangatta Utara dipusatkan di Polder Ilham Maulana dengan alokasi sekitar 4 ton beras, 1 ton minyak goreng, dan 1 ton gula pasir. Sementara di Sangatta Selatan, distribusi dilakukan secara mobile oleh jajaran Polres Kutim dengan total penyaluran mencapai 7 ton beras. Di titik ketiga, Dinas Perindustrian, Perdagangan, Koperasi, dan UMKM Kaltim turut menyediakan bahan pokok murah bagi warga. Setiap paket sembako—terdiri dari 5 kilogram beras SPHP, 1 liter minyak goreng, dan 1 kilogram gula pasir—dijual hanya \text{Rp}102 ribu per paket, jauh di bawah harga pasar.
Noviari menjelaskan, program ini adalah respons atas data Kementerian Pertanian dan Bulog yang mencatat stok beras nasional masih mencukupi hingga akhir tahun, dengan cadangan mencapai 1,3 juta ton.
“Pemerintah pusat mendorong percepatan distribusi agar stok tidak menumpuk, sekaligus memastikan masyarakat memperoleh bahan pangan pokok dengan harga yang terjangkau,” paparnya.
Meski tanpa kuota khusus, Pemkab Kutim terus berkoordinasi dengan Bulog wilayah Samarinda untuk menjamin pasokan tetap stabil. Secara umum, kondisi inflasi Kutim masih tergolong terkendali. Namun, langkah-langkah seperti ini tetap penting dilakukan, terutama menjelang akhir tahun dan musim penghujan yang berpotensi memicu kenaikan harga.
“Inflasi kita stabil, tapi kewaspadaan tetap perlu. GPM ini adalah langkah preventif agar harga bahan pokok tidak melonjak dan daya beli masyarakat tetap terjaga,” tambah Noviari.
Selain menstabilkan harga, pemerintah juga memanfaatkan momentum GPM untuk memperkuat ketahanan pangan daerah, termasuk dengan pembukaan lahan sawah baru, peningkatan produktivitas pertanian, serta penguatan sistem irigasi. Noviari mengakui, program sembako murah belum berdampak langsung pada penurunan angka kemiskinan, tetapi keberadaannya sangat membantu masyarakat untuk tetap bisa mengakses bahan pangan berkualitas di tengah tekanan ekonomi.
“Kami ingin memastikan tidak ada warga yang kesulitan memenuhi kebutuhan pokok. Ini bukan sekadar pembagian sembako, tapi tentang menjaga stabilitas sosial dan ekonomi daerah,” tegas Noviari.
Program GPM dijadwalkan terus dilaksanakan secara berkala melalui kolaborasi antara pemerintah pusat, provinsi, dan kabupaten. Dengan kolaborasi tersebut, Kutai Timur optimistis mampu menjaga harga tetap stabil dan masyarakat tetap kuat menghadapi dinamika ekonomi. Dengan semangat kebersamaan, Gerakan Pangan Murah tidak hanya menekan harga—tetapi menegaskan bahwa kehadiran pemerintah selalu nyata di tengah rakyatnya. (ADV/ProkopimKutim/K)












