SANGATTA — “Sudah hampir sepuluh tahun Karang Taruna Kutim tertidur panjang,” ujar Agus Pranoto, Pelaksana Tugas Karang Taruna Kalimantan Timur, membuka sambutannya dengan nada reflektif.
“Temu Karya ini jadi momentum penting untuk membangunkan kembali energi sosial yang lama mengendap di masyarakat.”
Ucapannya disambut anggukan dari ratusan peserta yang datang dari 18 kecamatan. Di ruangan itu, wajah-wajah muda dan senior duduk berdampingan, menandai semangat kolaborasi lintas generasi yang mulai bersemi lagi.
Agus menjelaskan bahwa Karang Taruna bukan organisasi eksklusif, melainkan wadah terbuka bagi warga berusia 13 hingga 45 tahun yang ingin berbuat bagi lingkungannya.
“Kita mungkin datang dari latar belakang berbeda, tapi begitu kembali ke masyarakat, kita semua bagian dari Karang Taruna,” katanya sambil tersenyum kecil, disambut tepuk tangan peserta.
Dukungan terhadap kebangkitan organisasi ini juga datang dari Ketua DPRD Kutim, Jimmi, yang menyebut Karang Taruna memiliki peran strategis sebagai jembatan antara pemerintah dan masyarakat.
“Kami ingin melihat Karang Taruna hadir di tengah-tengah warga, memberi manfaat nyata, dan ikut mempercepat pembangunan sosial,” ujarnya.
Momen penting terjadi ketika Bupati Kutim, Ardiansyah Sulaiman, secara resmi membuka acara. Dalam pidatonya, ia mengingatkan bahwa Karang Taruna memiliki peran luas — sosial, budaya, keagamaan, hingga olahraga.
“Semua bisa berkontribusi, baik yang muda maupun yang sudah matang,” tuturnya dengan gaya khasnya yang tenang tapi tegas.
Ardiansyah juga menekankan perlunya regenerasi dan sinergi.
“Kita ingin Karang Taruna tumbuh dari desa sampai kabupaten. Jadikan Temu Karya ini titik tolak untuk menata ulang semangat gotong royong dan kepedulian sosial,” ucapnya.
Setelah pembukaan, rapat pleno yang digelar pada sore hari menetapkan Arsyil Dyago Tandi Tasik, atau akrab disapa Bang Ego, sebagai Ketua Karang Taruna Kutim periode 2025–2030. Ia mendapat dukungan bulat dari seluruh kecamatan se-Kutim, termasuk satu suara simbolis dari perwakilan Karang Taruna Provinsi.
Dalam pidato perdananya, Bang Ego berbicara singkat, tapi penuh semangat.
“Karang Taruna adalah mitra strategis pemerintah. Kita akan turun langsung ke lapangan, menjangkau masyarakat, dan menggerakkan perubahan dari bawah,” ujarnya dengan suara bergetar menahan haru.
Di akhir acara, suasana yang semula formal berubah hangat. Peserta berfoto bersama, beberapa saling berpelukan, seolah lega bisa melihat roda organisasi ini kembali berputar. Setelah lima tahun vakum, Karang Taruna Kutim akhirnya kembali punya arah dan nakhoda.
Kebangkitan Karang Taruna Kutim bukan soal struktur saja, tapi soal ruang sosial yang kembali terbuka. Di tengah tantangan digitalisasi dan urbanisasi, komunitas seperti ini menjadi penting untuk menjaga semangat gotong royong dan solidaritas lokal. Temu Karya 2025 mungkin belum sempurna, tapi ia menandai satu hal: bahwa anak muda Kutim masih percaya pada gerakan yang tumbuh dari bawah.
Hari itu, di Ruang Tempudau, lahir bukan hanya kepengurusan baru, tapi juga harapan. Harapan tentang anak muda yang bergerak, bergandeng tangan, dan kembali percaya bahwa perubahan sosial bisa dimulai dari satu hal kecil: kemauan untuk terlibat.(ADV/ProkopimKutim/K)












