SANGATTA — Fasilitas literasi ini dibangun secara permanen oleh KPC melalui program Corporate Social Responsibility (CSR) bidang infrastruktur kesehatan. Bangunan tersebut sekaligus menjadi wajah baru dari peran Posyandu sebagai ruang komunitas yang adaptif dan multifungsi, menjembatani kebutuhan dasar kesehatan anak dan perkembangan literasi usia dini.
Acara peresmian, yang ditandai dengan pemotongan pita, dihadiri sejumlah pemangku kepentingan, termasuk Kepala Seksi Pemberdayaan Masyarakat Desa dan Kelurahan Kecamatan Sangatta Utara Elysabeth Artikawati, Sekretaris Desa Sangatta Utara Osler Manalu, serta jajaran Community Empowerment KPC yang diwakili Manager CE Nanang Supriyadi.
Dalam sambutannya, Elysabeth menekankan pentingnya sinergi antara pemerintah, masyarakat, dan sektor swasta dalam mendorong gerakan literasi sejak usia dini.
“Penyediaan taman baca posyandu ini merupakan langkah kolaboratif yang sangat penting. Ia membutuhkan kader aktif, masyarakat antusias, serta dukungan dari perusahaan seperti KPC,” ungkapnya.
Ia berharap taman baca tersebut bisa berkembang menjadi pusat kegiatan edukatif anak-anak dan ruang pemberdayaan bagi warga sekitar.
Manager CE KPC Nanang Supriyadi menyampaikan bahwa program ini merupakan bagian dari komitmen perusahaan mendukung pencegahan stunting dan peningkatan mutu pendidikan anak. KPC telah membangun 18 posyandu di wilayah operasional dalam lima tahun terakhir.
“Kini taman baca melengkapi fungsinya,” ujar Nanang, menegaskan bahwa keberadaan taman baca memungkinkan anak-anak memperoleh akses bahan bacaan secara lebih mudah dan terarah.
“Ini langkah kecil, namun berdampak besar bagi masa depan Kutai Timur. Anak-anak tumbuh sehat secara fisik, sekaligus cerdas secara intelektual,” tegasnya.
Taman Baca Posyandu Nusa Indah kini adalah ruang hidup baru bagi anak-anak untuk mengenal huruf, cerita, dan warna-warna imajinasi. Fasilitas ini menjawab kebutuhan akan ruang belajar nonformal yang dekat, ramah, dan gratis.
Melalui tujuh program prioritas CSR-nya, KPC terus menegaskan bahwa pembangunan infrastruktur mencakup membuka jendela masa depan lewat buku-buku cerita di sudut posyandu, bukan hanya soal jalan dan jembatan. (ADV/ProkopimKutim/K)











