SANGATTA – Penghargaan bergengsi tersebut diserahkan langsung oleh Bupati Ardiansyah Sulaiman di Lapangan Kantor Bupati Kutim. Sahari, yang pernah mengenyam pendidikan tinggi di Malang, diapresiasi atas portofolio karyanya yang meliputi sembilan judul buku tunggal dan kontribusi dalam 46 antologi. Beberapa karyanya yang paling dikenal antara lain “Perempuan yang Menuju Dermaga”, “Selebrasi”, dan “Jeremba”.
Penghargaan ini disambut Sahari dengan rasa syukur dan optimisme. Ia mengungkapkan bahwa apresiasi dari pemerintah daerah menambah semangatnya untuk terus berkarya di tengah kesibukan mengajar.
“Saya merasa sangat bersyukur dan tertantang dengan penghargaan ini,” ungkap Sahari beberapa waktu lalu. Ia menjelaskan bahwa menulis, baik buku, cerpen, maupun puisi, adalah hobi yang ia tekuni sejak di bangku kuliah.
Saat ini, Sahari mengabdikan diri sebagai Guru Mata Pelajaran Bahasa Indonesia di SMP Negeri 5 Sangatta Utara. Sebelumnya, ia juga memiliki pengalaman sebagai kepala sekolah di lingkungan perusahaan sawit. Selain sebagai pendidik, Sahari aktif memimpin Komunitas Belajar ETAM Kutim periode 2023–2026, sebuah komunitas yang fokus pada peningkatan kualitas pendidik di Kaltim dan Kutim.
Lebih dari sekadar penerima penghargaan, Sahari berharap apresiasi ini dapat menjadi pemicu bagi masyarakat luas untuk ikut berkarya. Ia juga menegaskan komitmennya untuk mendukung program literasi pemerintah daerah.
“Saya berharap penghargaan seperti ini dapat memacu masyarakat lain yang ingin berkarya lewat tulisan. Kami siap membagi inspirasi dan ilmu, termasuk melatih kemampuan menulis generasi muda jika diminta oleh pemerintah,” tambahnya, menunjukkan kesediaannya untuk mentransfer ilmu yang ia miliki demi kemajuan literasi daerah.
Pemberian penghargaan kepada Sahari Nor Wakhid dan enam penulis lainnya menjadi penegasan bahwa Kutim tidak hanya berfokus pada pembangunan fisik, tetapi juga serius dalam mendukung pengembangan sumber daya manusia melalui literasi dan seni.(ADV/ProkopimKutim/K)












