SANGATTA — Kegiatan yang digelar Kamis, 15 Mei 2025 itu diikuti 125 murid yang telah menyelesaikan pembelajaran tartil jilid 1–6 dan tahfidz juz 29–30 dengan metode Ummi. Anak-anak duduk rapi di atas karpet, beberapa masih memegang mushaf kecil. Dari barisan depan, Bupati Ardiansyah sesekali menelan senyumnya sambil menunduk — matanya menggenang air.
“Sejak keluar rumah tadi, saya tidak banyak bicara. Saya benar-benar terharu,” katanya pelan, suaranya sedikit bergetar.
“Salah satu peserta tadi adalah cucu saya sendiri. Saya berterima kasih kepada para guru yang telah sabar mendidik mereka.”
Tepuk tangan dari orang tua murid mengalir hangat. Momen itu menegaskan bahwa hubungan antara pemimpin daerah dan dunia pendidikan bukan soal program, tapi soal rasa.
Dalam sambutannya, Bupati Ardiansyah menekankan pentingnya pendidikan Al-Qur’an sebagai bekal hidup dunia dan akhirat.
“Al-Qur’an adalah petunjuk hidup kita. Saya mengajak semua pihak —guru, orang tua, dan masyarakat— untuk terus mendampingi anak-anak agar memahami dan mengamalkan isi Al-Qur’an,” nasehatnya sembari tangannya menyeka sudut matanya.
Di sisi lain, Bunda PAUD Hj Siti Robiah terlihat beberapa kali berbincang ringan dengan guru-guru TKIT Daarussalam. Ia memuji kesabaran mereka dan menyebut metode Ummi sebagai pendekatan yang lembut tapi efektif dalam membentuk karakter anak sejak dini.
Acara juga dihadiri oleh Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kutim Mulyono, Direktur Ummi Foundation Surabaya Ustaz Ghofur, Ketua Yayasan Pembina Muslim Daarussalam (YPMD) Muhammad Idris, Kepala Sekolah Husnul Khatimah, serta para orang tua murid yang memenuhi ruangan.
Dalam laporannya, Husnul Khatimah menyebut kegiatan Hubbul Qur’an tahun ini mengangkat tema: “Cintai Al-Qur’an Sejak Dini, Berkah Bumiku Pertiwi.”
Tema itu, katanya, adalah ajakan agar anak-anak tumbuh mencintai Al-Qur’an bukan karena kewajiban, tapi karena rasa bahagia.
“Kami ingin menjadikan Al-Qur’an sebagai pedoman yang mereka cintai sejak kecil,” ujarnya singkat.
Ketua YPMD Muhammad Idris turut memberikan apresiasi kepada pemerintah daerah atas dukungan terhadap fasilitas pendidikan Islam di Kutim.
“Tanpa dukungan pemerintah, dan tanpa kesabaran guru serta orang tua, mustahil pendidikan Qur’ani bisa berjalan maksimal,” katanya.
“Semoga dari sini lahir generasi penghafal Al-Qur’an yang membawa berkah untuk Kutai Timur.”
Acara puncak ditutup dengan pemberian penghargaan bagi murid berprestasi — mereka yang hafal lebih banyak surat, bacaan tartil terbaik, dan sikap disiplin dalam belajar. Suasana haru kembali terasa saat para orang tua memeluk anak-anak mereka sambil menitikkan air mata bangga.
Bagi TKIT Daarussalam, ini adalah momen kebersamaan yang menumbuhkan nilai Qur’ani di hati anak-anak. Kegiatan yang diselenggarakan setiap tahun ini merupakan bukti nyata sinergi antara pemerintah, lembaga pendidikan, dan masyarakat dalam menanamkan nilai Qur’ani pada generasi penerus bangsa.
Dan di tengah riuh tepuk tangan itu, Bupati Ardiansyah sempat berpesan pada salah satu guru:
“Teruskan mendidik mereka dengan sabar. Dari sinilah kita menyiapkan masa depan yang beriman.”
Hari itu, cinta pada Al-Qur’an tumbuh di hati anak-anak kecil Kutai Timur perlahan, tapi kuat. (ADV/ProkopimKutim/K)












