SANGATTA — Pencegahan kanker serviks dinilai perlu dilakukan sebelum munculnya gejala atau lesi prakanker. Dokter spesialis obstetri dan ginekologi, dr Sandri, menyebut vaksin Human Papillomavirus (HPV) menjadi salah satu langkah paling efektif untuk menekan risiko kanker leher rahim pada perempuan.
Hal itu disampaikan Sandri dalam sosialisasi kanker serviks di Aula Dinas Kesehatan (Dinkes) Kutai Timur (Kutim). Ia menjelaskan sebagian besar kasus kanker serviks berkaitan dengan infeksi HPV sehingga pencegahan perlu dilakukan sedini mungkin.
Menurut Sandri, perempuan yang hasil screening-nya negatif dapat melanjutkan vaksinasi HPV. Vaksin tersebut, kata dia, telah direkomendasikan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) dan dapat diberikan kepada anak maupun perempuan usia subur.
“Kalau hasil screening negatif, segera lanjutkan dengan vaksinasi HPV sebagai langkah pencegahan paling efektif dan murah,” ujarnya.
Sandri juga menjawab kekhawatiran peserta mengenai keamanan vaksin bagi anak. Ia memastikan vaksin HPV aman dan telah menjadi bagian dari rekomendasi WHO.
Dalam pemaparannya, vaksin HPV diberikan melalui tiga dosis. Dosis kedua diberikan empat minggu setelah suntikan pertama, sedangkan dosis ketiga lima bulan setelah dosis kedua. Booster dapat diberikan lima hingga 10 tahun kemudian.
Selain imunisasi, pemeriksaan IVA test dan pap smear tetap diperlukan untuk mendeteksi perubahan sel atau lesi prakanker.
“Kalau sudah muncul gejala atau lesi prakanker, fokusnya bukan lagi pencegahan, tetapi pengobatan yang tentu jauh lebih mahal,” katanya.
Kepala Dinkes Kutim, dr Yuwana Sri Kurniawati, mengatakan screening IVA terus didorong melalui puskesmas di seluruh wilayah. Program tersebut menjadi bagian dari upaya nasional menekan kematian akibat kanker serviks.
Sandri berharap dalam setahun ke depan seluruh perempuan usia subur di Kutim telah menjalani IVA test dan sebagian besar mendapat vaksinasi HPV. (ADV/ProkopimKutim/KR)













