
SANGATTA — “Ketergantungan kita pada tambang harus diakhiri,” ujar Akbar saat ditemui akhir pekan lalu. Lebih lanjut dijelaskannya dengan tenang bahwa: “Sumber daya alam itu pasti akan habis. Sebaliknya, pertanian—jika kita kelola dengan ilmu dan kesungguhan—akan terus memberikan kehidupan.”
Bagi Akbar, arah pembangunan Kutim ke depan tidak lagi masanya bersandar pada eksploitasi. Ia berpendapat bahwa pergeseran menuju produksi dan keberlanjutan adalah keharusan, dan sektor pertanian memiliki potensi besar untuk menjadi fondasi ekonomi baru di Kutai Timur.
“Saat ini kontribusi pertanian terhadap PDRB memang masih sekitar empat persen. Namun, kita memiliki ruang tumbuh yang sangat lebar. Kita punya lahan yang subur, tenaga kerja yang siap, dan didukung penuh oleh kebijakan nasional mengenai ketahanan pangan,” jelasnya.
Penting untuk dicatat, pemerintah pusat kini menempatkan ketahanan pangan sebagai program strategis nasional. Visi ini berjalan searah dengan cita-cita besar Kutim Hebat yang diusung oleh Bupati dan Wakil Bupati. Dari 50 program unggulan daerah, sektor pertanian menempati posisi sentral karena dampak positifnya langsung menyentuh kehidupan masyarakat di pedesaan.
Akbar menambahkan, kebijakan yang kini dirumuskan oleh Pemkab Kutim menuntut sinergi yang kuat antarinstansi. Ia mengapresiasi kesiapan Dinas Pertanian dalam beradaptasi, dan peran vital Sekolah Tinggi Pertanian (STIPER) Kutim sebagai pencetak tenaga terampil.
“STIPER sudah menguatkan komitmen mereka. Sekarang fokus kita bagaimana mempererat kolaborasi antara pihak akademisi, pemerintah, dan para petani di lapangan,” ujarnya.
Lebih jauh, Akbar menyoroti krusialnya peran generasi muda. Pertanian modern memerlukan sentuhan ide-ide segar dari anak-anak muda. Ia mengajak pemuda di 18 kecamatan dan 141 desa untuk berani terjun dan mengambil peran aktif.
“Pertanian sekarang sudah jauh dari citra cangkul dan lumpur semata. Ini bicara inovasi, teknologi, dan peluang bisnis yang besar. Anak muda memiliki energi dan cara pandang baru untuk membawa perubahan itu,” tegasnya sambil tersenyum.
Di samping itu, ia juga menekankan perlunya evaluasi rutin terhadap semua program pertanian. Evaluasi ini penting agar kebijakan tidak sekadar indah di atas kertas. “Kita harus tahu persis di mana letak hambatannya. Seringkali masalah muncul bukan karena petani, melainkan karena kebijakan yang belum sepenuhnya sinkron. Itu tugas kita untuk membereskannya bersama,” kata Akbar.
Sebagai perwakilan rakyat, Akbar menegaskan peran utama DPRD Kutim. “Fungsi kami adalah pengawasan, legislasi, dan anggaran. Tugas kami memastikan bahwa setiap aturan dan alokasi anggaran daerah benar-benar berpihak kepada kesejahteraan petani,” ujarnya.
Menutup pembicaraan, Akbar kembali menegaskan bahwa Fraksi PKS siap mengawal agenda pembangunan daerah, terutama di sektor yang paling dekat dengan rakyat.
“Kami akan terus mengawal visi besar Kutim Hebat, memastikan hal itu terwujud. Pertanian harus menjadi jantung masa depan kita,” pungkasnya, sebelum berpamitan dengan wartawan yang menunggu.
Dari seluruh pembicaraan, tersirat pesan kuat: Kutim mungkin dianugerahi kekayaan tambang, tetapi masa depannya yang berkelanjutan harus tumbuh dari tanah yang diolah dan ditanami, bukan yang terus-menerus digali. (ADV)













