SANGATTA – Pemerintah Kabupaten Kutai Timur (Kutim) menetapkan penguatan hilirisasi komoditas unggulan sebagai salah satu fokus pembangunan ekonomi daerah. Strategi tersebut diharapkan mampu meningkatkan nilai tambah produk lokal, memperluas pasar ekspor, sekaligus mengurangi ketergantungan terhadap sektor pertambangan.
Komitmen itu disampaikan dalam Rapat Kerja Teknis Hilirisasi Potensi Komoditi dan Peluang Ekspor yang digelar di Ruang Meranti, Kantor Bupati Kutim. Kegiatan dibuka oleh Asisten Perekonomian dan Pembangunan Seskab Kutim Noviari Noor dan dihadiri perangkat daerah, pelaku usaha, serta mitra pendukung ekspor.
Dalam sambutannya, Noviari menegaskan bahwa hilirisasi merupakan langkah strategis agar komoditas unggulan Kutim tidak lagi dipasarkan sebagai bahan mentah. Menurutnya, produk seperti pisang, kakao, aren genjah, dan nanas memiliki potensi besar untuk diolah menjadi produk bernilai ekonomi lebih tinggi.
“Hilirisasi adalah kunci agar nilai ekonomi tetap berputar di daerah sekaligus menciptakan lapangan kerja baru,” ujarnya.
Selain mendorong pengembangan industri pengolahan, pemerintah juga mengoptimalkan penggunaan Sistem Informasi Industri Nasional (SIINas). Seluruh pelaku industri kecil dan menengah diminta memperbarui data produksi serta lokasi usaha agar menjadi dasar penyusunan kebijakan yang lebih akurat.
Noviari menilai ketersediaan data yang valid akan mempermudah pemerintah dalam memetakan potensi industri, membuka akses pasar, hingga menyusun strategi ekspor yang tepat sasaran.
Ia menambahkan, pertumbuhan ekonomi nonbatu bara Kutim yang mencapai sekitar 11 persen pada 2025 menjadi indikator bahwa sektor pertanian, perkebunan, industri pengolahan, dan transportasi mulai berkembang. Karena itu, hilirisasi diproyeksikan menjadi penggerak ekonomi baru sekaligus mendukung visi Kutim sebagai pusat hilirisasi dan daerah yang tangguh, mandiri, serta berdaya saing. (ADV/ProkopimKutim/KR)












