SANGATTA – Produksi beras di Kabupaten Kutai Timur (Kutim) masih tertinggal jauh dari kebutuhan masyarakat. Dari kebutuhan sekitar 43 ribu ton beras per tahun, daerah ini baru mampu memenuhi sekitar 18 persen atau sekitar 8 ribu ton. Kondisi tersebut menunjukkan masih besarnya ketergantungan Kutim terhadap pasokan beras dari luar daerah.
Kepala Dinas Tanaman Pangan, Hortikultura dan Peternakan (DTPHP) Kutim, Dyah Ratnaningrum, menjelaskan kebutuhan beras dihitung berdasarkan jumlah penduduk yang mendekati 430 ribu jiwa dengan rata-rata konsumsi 100 kilogram per orang setiap tahun. Sementara itu, luas sawah yang tersedia saat ini hanya sekitar 2.638 hektare dengan produktivitas rata-rata 5 ton gabah kering giling (GKG) per hektare.
“Produksi gabah sekitar 13.190 ton per tahun. Setelah dikonversi menjadi beras dengan rendemen 60-62 persen, hasilnya hanya sekitar 8 ribu ton,” ujar Dyah.
Ia mengatakan, untuk memenuhi kebutuhan beras daerah dibutuhkan sekitar 69 ribu ton GKG per tahun atau setara kebutuhan lahan sawah sekitar 13.800 hektare. Dengan luasan eksisting, Kutim masih kekurangan sekitar 11.233 hektare sawah.
Menurut Dyah, pemerintah daerah telah menyiapkan program ekstensifikasi sawah hingga 20 ribu hektare bekerja sama dengan Kodim 0909/KTM. Namun, pelaksanaannya menghadapi tantangan berupa tumpang tindih lahan dengan perkebunan sawit, kawasan pertambangan, hingga kepemilikan masyarakat.
Selain membuka lahan baru, Pemkab Kutim juga mempercepat intensifikasi pertanian melalui penggunaan benih unggul, pemupukan berimbang, mekanisasi, modernisasi irigasi, peningkatan indeks pertanaman, serta pengurangan kehilangan hasil panen. Langkah tersebut diharapkan mampu meningkatkan produksi secara bertahap sekaligus memperkuat ketahanan pangan daerah. (ADV/ProkopimKutim/KR)













