SANGATTA — Pemerintah Kabupaten Kutai Timur (Kutim) memperluas pelacakan tuberkulosis (TBC) dengan menyasar warga di wilayah yang dinilai memiliki risiko penularan tinggi. Program tersebut dilakukan melalui skrining massal yang digelar Perkumpulan Pemberantasan Tuberkulosis Indonesia (PPTI) Kutim bersama Dinas Kesehatan (Dinkes) Kutim.
Kegiatan berlangsung di RT 35 Gang Dayung, Kelurahan Teluk Lingga, Kecamatan Sangatta Utara, Senin (17/8/2026). Layanan pemeriksaan kesehatan gratis itu menjadi bagian dari rangkaian peringatan HUT ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia.
Kepala Dinkes Kutim dr Yuwana Sri Kurniawati mengatakan Kutim mendapat alokasi 118 lokus skrining kesehatan dari Kementerian Kesehatan RI. Setiap lokus ditargetkan mampu memeriksa sedikitnya 100 warga.
Prioritas pemeriksaan diberikan kepada kawasan dengan indikasi kasus TBC positif yang tinggi. Menurut Yuwana, langkah tersebut penting untuk menemukan penderita sedini mungkin sekaligus mencegah penyebaran lebih luas.
“Satu penderita TBC berpotensi menularkan penyakitnya kepada 20 orang sehat di sekitarnya. Oleh karena itu, pemerintah harus masif melakukan pelacakan,” kata Yuwana.
Ketua PPTI Kutim sekaligus Ketua TP PKK Kutim Siti Robiah Ardiansyah mengimbau warga tidak takut menjalani pemeriksaan. Jika ditemukan indikasi TBC, masyarakat akan memperoleh pendampingan dan pengobatan secara gratis.
Proses skrining meliputi pendaftaran, pemeriksaan awal, hingga rontgen dada. Untuk balita, pemeriksaan dapat menggunakan tes Mantoux, sementara pemeriksaan dahak BTA juga dilakukan sesuai kebutuhan.
Pasien yang dinyatakan positif akan menjalani pengobatan selama enam bulan dan dapat diperpanjang hingga delapan bulan bila diperlukan.
Pemkab Kutim menargetkan penguatan pelacakan tersebut menjadi bagian dari upaya mencapai eliminasi TBC pada 2030. (ADV/ProkopimKutim/KR)













