SANGATTA — Dinas Kesehatan Kabupaten Kutai Timur (Kutim) memperkuat kemampuan petugas ambulans dalam menghadapi kasus stroke yang trennya disebut terus meningkat. Pembekalan diberikan kepada petugas Puskesmas, PSC/PSC 119, pengemudi ambulans desa, hingga sopir ambulans.
Kepala Dinkes Kutim dr Yuwana Sri Kurniawati mengatakan langkah tersebut diperlukan karena penanganan sejak pasien ditemukan di rumah sangat menentukan kondisi berikutnya. Kesalahan saat memberikan pertolongan atau mengevakuasi pasien justru berpotensi memperburuk keadaan.
“Cara mengangkatnya ternyata salah, penanganan awal sebelum ke rumah sakit juga salah, akhirnya malah memperberat kondisi pasien,” kata Yuwana seusai Rakor KPAD di Ruang Arau Kantor Bupati Kutim, Senin (10/8/2026).
Menurut Yuwana, edukasi kepada masyarakat sebenarnya telah dilakukan melalui seminar dan penyuluhan. Namun, kapasitas tenaga di lapangan tetap perlu ditingkatkan agar pasien mendapat pertolongan yang tepat sebelum tiba di rumah sakit.
Ia menyebut peningkatan kasus stroke berkaitan dengan perubahan gaya hidup. Konsumsi makanan dan minuman tinggi gula serta kolesterol menjadi salah satu kebiasaan yang perlu dikendalikan. Bahkan, kasus penyakit metabolik dan stroke kini mulai ditemukan pada usia muda.
Yuwana mengingatkan masyarakat tidak menunda membawa pasien ke fasilitas kesehatan. Stroke memiliki masa emas penanganan sehingga kecepatan evakuasi menjadi faktor penting.
RSUD Kudungga Kutim, kata dia, telah didukung CT scan dan MRI serta memiliki dua dokter spesialis bedah saraf, yakni dr Heru dan dr Mirza.
Penguatan petugas ambulans, kesiapan fasilitas, dan perubahan pola hidup diharapkan mampu mempercepat penanganan serta menekan risiko kecacatan dan kematian akibat stroke. (ADV/ProkopimKutim/KR)













