
SANGATTA – Meski angka stunting di Kutai Timur (Kutim) mengalami penurunan, Dinas Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana (DPPKB) mengungkapkan bahwa kondisi ini masih menjadi perhatian serius. Data terbaru menunjukkan 26% anak di Kutim masih mengalami stunting, dengan 21% termasuk kategori stunting dan 5% tergolong sangat stunting yang membutuhkan penanganan khusus.
DPPKB Kutim terus memperkuat upaya pencegahan melalui program Gerakan Orang Tua Asuh Cegah Stunting (Genting), yang sejalan dengan 50 program unggulan Bupati. Program ini menekankan peran aktif orang tua dalam memastikan asupan gizi dan kesehatan anak sejak dini.
“Iya, program kita itu ada namanya Genting, Gerakan Orang Tua Asuh Cegah Stunting,” kata Anik Saidah, Bidang Ketahanan dan Kesejahteraan Keluarga DPPKB, saat ditemui di kantornya, 7 Oktober 2025.
Anik menambahkan, kelompok 5% yang sangat stunting biasanya memiliki riwayat penyakit bawaan seperti jantung atau diabetes dari orang tua, sehingga memerlukan perhatian medis lebih intensif.
Namun, keterbatasan anggaran menjadi tantangan utama dalam pelaksanaan program ini. “Kami menilai anggaran yang ada saat ini masih terbatas, apalagi jarak antar kecamatan cukup jauh. Di triwulan ke-4 ini, kita juga sudah kehabisan anggaran,” ungkapnya.
Untuk itu, kolaborasi antar pemerintah desa dan kecamatan dianggap kunci suksesnya program Genting. DPPKB pun telah menyampaikan kebutuhan anggaran tambahan kepada DPRD Kutim, khususnya Komisi D, yang merespons terbuka dan berjanji akan membahasnya lebih lanjut bersama badan anggaran.
Dengan langkah-langkah terpadu dan dukungan anggaran yang memadai, diharapkan angka stunting di Kutim dapat terus menurun, serta anak-anak daerah ini tumbuh sehat dan cerdas. (ADV)













