SANGATTA — Suasana hangat dan penuh kebersamaan tampak di lokasi pembangunan Gereja Toraja Jemaat Prima Sangatta (GT JPS) ketika jemaat, tokoh daerah, dan jajaran Gereja Toraja berkumpul untuk menandai dimulainya proses pembangunan rumah ibadah permanen tersebut. Ketua DPRD Kutai Timur Jimmi, Wakil Ketua DPRD Sayid Anjas, para pendeta, pengurus Klasis Kutim, serta ratusan jemaat turut hadir sebagai bentuk dukungan terhadap pembangunan gereja itu.
Bupati Kutai Timur Ardiansyah Sulaiman menyampaikan bahwa pembangunan GT JPS mencerminkan kuatnya hubungan sosial yang telah lama tumbuh di Kutai Timur. Ia memandang keberagaman suku, budaya, dan agama di daerah itu sebagai kekuatan penting yang menopang pembangunan. “Kutim ini kaya dengan heterogenitas, ada banyak suku, agama, dan budaya yang hidup berdampingan secara harmonis. Inilah modal besar kita dalam membangun daerah,” ujarnya.
Ardiansyah menambahkan bahwa potensi sumber daya manusia, kekayaan alam, serta budaya gotong royong masyarakat harus dikelola secara bijak agar manfaatnya dapat dirasakan seluruh warga. Ia juga menyinggung pertumbuhan ekonomi Kutai Timur yang mencapai 10 persen. Namun, menurutnya, pertumbuhan tersebut hanya akan memiliki dampak luas bila disertai pemerataan. “Pembangunan harus merata dan dinikmati masyarakat secara luas. Itulah tujuan pembangunan daerah yang berkeadilan,” tegasnya.
Bupati mengajak masyarakat menjaga kerukunan dan terus memperkuat persatuan. Ia menekankan bahwa semangat kebersamaan harus terus dipertahankan sebagai fondasi pembangunan daerah, sejalan dengan nilai yang tercantum dalam Mars Kutai Timur yang menekankan kerja keras dan perjuangan bersama.
Ketua Panitia Pembangunan GT JPS, dr Tity Novel Paembonan, menyampaikan rasa syukur atas dukungan berbagai pihak sehingga proses awal pembangunan gereja dapat dimulai. Ia menyebut momentum ini sebagai langkah baru bagi jemaat dalam mewujudkan rumah ibadah yang lebih representatif. “Ini adalah hari yang bersejarah. Semua ini bisa terjadi berkat partisipasi jemaat, dukungan pemerintah, dan seluruh pihak yang bergandeng tangan,” ujarnya.
Untuk tahap awal, pembangunan gereja mendapat alokasi anggaran lebih dari Rp 8 miliar, terutama untuk pekerjaan fondasi dan kolom. Secara keseluruhan, kebutuhan biaya diperkirakan mencapai Rp 42 sampai 43 miliar dengan target penyelesaian tiga hingga empat tahun. Gereja akan dibangun dengan ukuran 45 meter kali 36 meter dan berkapasitas hingga 2.200 orang.(ADV/ProkopimKutim/K)












