SANGATTA — Di Desa Swarga Bara, Kutai Timur, sebuah kolam biru menjadi saksi perubahan. Telaga Biru, yang dulunya lahan tambang, kini menjadi pusat budidaya ikan hasil kolaborasi antara Pangkalan TNI AL (Lanal) Sangatta dan PT Kaltim Prima Coal (KPC). Rabu lalu, Ketua DPRD Kutim Jimmi bersama jajaran Forkopimda menghadiri panen ikan nila dan penebaran 13 ribu benih lele dan nila di lokasi tersebut.
Bukan sekadar seremoni, kegiatan ini merupakan bagian dari program reklamasi pascatambang yang mengusung prinsip ekonomi hijau dan ketahanan pangan berkelanjutan.
“Lahan bekas tambang tidak harus menjadi cerita usang. Ia bisa dihidupkan kembali menjadi sumber kehidupan,” ujar Jimmi, usai mengikuti rangkaian kegiatan.
“Ini bukan soal teknis,” kata Jimmi. “Ini soal keberanian melihat masa depan di tanah yang dulu ditinggalkan. Dari lubang tambang, kita bangun lumbung pangan.”
“Kegiatan seperti ini mengajarkan kita bahwa dengan niat baik dan inovasi, bahkan dari tanah bekas tambang pun bisa tumbuh lumbung pangan,” tambahnya.
Dari sisi teknis, KPC melalui Superintendent Conservation and Agribusiness Development, Nugroho Dewanto, menjelaskan bahwa reklamasi kini diarahkan pada pengembangan ekonomi masyarakat sekitar.
“Penebaran benih ikan ini adalah bukti bahwa lahan pascatambang bisa menjadi pusat agribisnis perikanan yang produktif dan inklusif,” ujarnya.
Komandan Lanal Sangatta, Letkol Laut (P) Fajar Yuswantoro, menambahkan bahwa program ini juga bagian dari dukungan TNI AL terhadap visi nasional ketahanan pangan dan pemberdayaan wilayah pesisir.
“Ketahanan pangan adalah fondasi kedaulatan bangsa. Dengan mengolah kembali lahan yang dulu dieksploitasi, kini kita memberi kembali kepada alam dan masyarakat,” tuturnya.
Telaga Biru kini menjadi ruang belajar sekaligus ruang hidup. Air yang dulu tertampung dari sisa tambang kini menjadi habitat ribuan ikan. Di sekelilingnya, kelompok tani dan warga belajar langsung cara mengelola kolam sebagai sumber ekonomi baru.
Kehadiran Dandim 0909/KTM, Kajari Kutim, Ketua Pengadilan Agama, dan jajaran Forkopimda lainnya mempertegas dukungan terhadap inisiatif ini. Program ini diharapkan menjadi model pengelolaan pascatambang berbasis ketahanan pangan yang bisa direplikasi di wilayah lain Kutai Timur.
Karena di Kutai Timur, tanah yang pernah digali tak dibiarkan kosong. Ia diisi kembali dengan air, ikan, dan harapan yang tumbuh bersama masyarakat. (ADV/ProkopimKutim/K)












