YOGYAKARTA – Program peningkatan kapasitas guru melalui kerja sama Pemerintah Kabupaten Kutai Timur (Kutim) dan Universitas Negeri Yogyakarta (UNY) telah meluluskan 488 tenaga pendidik dalam dua angkatan. Sebanyak 297 guru di antaranya diwisuda pada Sabtu (22/8/2026).
Mereka merupakan penerima Beasiswa Indonesia Emas Daerah (BIMED) yang mengikuti pendidikan S2 Pendidikan Inklusi melalui skema Rekognisi Pembelajaran Lampau (RPL).
Wisuda angkatan kedua berlangsung di GOR UNY, Jalan Colombo, Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta. Bupati Kutim Ardiansyah Sulaiman hadir bersama istrinya, Siti Robiah, untuk menyaksikan langsung prosesi tersebut.
Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kutim Mulyono mengatakan program itu pertama kali dijalankan pada 2024. Saat itu, 191 guru dikirim untuk mengikuti pendidikan magister Pendidikan Inklusi.
“Angkatan pertama yang kita mulai sejak tahun 2024 itu kita kuliahkan sebanyak 191 orang dan alhamdulillah semuanya lulus 100 persen di tahun 2025,” kata Mulyono.
Program kemudian berlanjut pada 2025 dengan peserta sebanyak 300 tenaga pendidik. Namun, hanya 297 orang yang dapat mengikuti wisuda tahun ini.
Mulyono menjelaskan, tiga peserta tidak menyelesaikan studi. Satu orang meninggal dunia, satu peserta terkendala kondisi kesehatan, sementara seorang lainnya mengalami persoalan yang membuatnya tidak dapat menuntaskan pendidikan.
Ardiansyah mengapresiasi capaian tersebut. Ia meminta para lulusan membawa pengetahuan yang diperoleh selama kuliah untuk diterapkan di sekolah masing-masing.
Menurut dia, kompetensi pendidikan inklusi dibutuhkan untuk memperkuat pelayanan kepada peserta didik dengan beragam karakteristik dan kebutuhan.
“Anak-anak berkebutuhan khusus harus mendapatkan layanan pendidikan yang semakin baik, berkualitas, dan sesuai dengan kebutuhannya,” ujarnya.
Pemkab Kutim berharap penambahan guru berkualifikasi S2 Pendidikan Inklusi dapat memperkuat pelaksanaan pendidikan inklusif di berbagai satuan pendidikan. (ADV/ProkopimKutim/KR)













