
SANGATTA — Yulianus Palangiran, legislator Kutai Timur, meyakini bahwa kesejahteraan daerah tidak akan pernah kokoh jika fondasi utamanya, yaitu sektor pangan, rapuh. Ia mengakui pemerintah telah mengambil banyak langkah positif, tetapi menegaskan bahwa terobosan baru harus datang, terobosan yang benar-benar memprioritaskan masyarakat kecil.
“Mengangkat derajat kesejahteraan adalah perhatian utama pemerintah, dan hal ini harus diwujudkan dengan mendorong masyarakat kecil agar bergerak maju. Dari 18 kecamatan di Kutim, kita perlu gebrakan nyata yang secara langsung mendukung mereka,” ujar Yulianus, ditemui usai rapat koordinasi di Sangatta awal pekan lalu.
Baginya, ketahanan pangan adalah napas ekonomi rakyat yang harus dijaga setiap hari, jauh melampaui sekadar istilah dalam dokumen rencana pembangunan. Ia menekankan bahwa keberhasilan daerah bersandar pada kekuatan kelompok tani di desa.
“Kelompok tani adalah ujung tombak kita. Pemerintah harus hadir secara nyata, membentuk dan memperkuat mereka. Sangat menyedihkan, kini banyak lahan desa dan lahan negara justru dikuasai investor besar. Petani kita malah terpinggirkan, hanya menjadi penonton,” ucapnya, menyuarakan nada kecewa.
Ia kemudian mengingatkan bahwa Kutim harus lebih berhati-hati dalam mengelola potensinya. Daerah tidak bisa terus menerus menggantungkan diri pada sektor tambang dan perkebunan yang punya batas waktu. “Saya selalu sampaikan di rapat, kita harus waspada. Mengapa Dana Bagi Hasil (DBH) kita kecil? Mengapa Pendapatan Asli Daerah (PAD) kita minim, padahal aktivitas tambang dan perkebunan begitu masif?” tanyanya retoris.
Menurut Yulianus, inti masalahnya terletak pada ketergantungan. Daerah terlalu lama bersandar pada sektor yang memang cepat menghasilkan uang, tetapi tidak menawarkan keberlanjutan. Karena alasan inilah, ia mendesak pemerintah untuk kembali ke akar: membangun ekonomi yang berbasis pada pertanian rakyat.
“Pertanian tidak akan pernah habis. Ketika tambang selesai, tanah tetap mampu menumbuhkan kehidupan. Intinya, tinggal pada keseriusan kita untuk menggarapnya,” tambahnya.
Yulianus menegaskan, penguatan sektor pertanian perlu mencakup hal yang lebih luas dari sekadar penyediaan bibit dan pupuk. Ini juga memerlukan pendampingan intensif, pembiayaan yang mudah diakses, dan jaminan akses pasar yang adil bagi petani. Ia menilai, di sinilah peran strategis pemerintah daerah menjadi krusial—yaitu sebagai fasilitator dan pelindung utama bagi kehidupan petani.
Ia menutup pembicaraan dengan sebuah kalimat yang sederhana, namun mewakili kepekaan seorang wakil rakyat:
“Kalau petani kita kuat, desa akan hidup. Kalau desa hidup, Kutim ini tidak perlu merasa kekurangan apa-apa.”
Di tengah riuhnya pembahasan tentang industri berskala besar, suara Yulianus sore itu menjadi pengingat yang tulus—bahwa kemajuan sejati, sungguh tumbuh dari tanah yang diolah, alih-alih dari kekayaan yang dieksploitasi. (ADV)













