SANGKULIRANG — Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Sangkulirang kini melangkah lebih jauh dari perannya sebagai rumah sakit rujukan pesisir. Di bawah komando Pemerintah Kabupaten Kutai Timur (Pemkab Kutim), fasilitas ini resmi meluncurkan layanan operasi katarak modern tanpa jahitan (phacoemulsification), menjadikannya pionir pelayanan mata berbasis teknologi di kawasan timur Kalimantan.
Direktur RSUD Sangkulirang, dr. Azizah bin Smith, menjelaskan bahwa teknologi baru ini mengubah cara rumah sakit melayani pasien katarak.
“Dengan alat phacoemulsifikasi, operasi bisa dilakukan cepat, tanpa jahitan, dan pasien bisa pulang di hari yang sama. Proses penyembuhan rata-rata hanya satu minggu,” ujarnya, sembari tersenyum lelah namun bangga.
Teknologi ini sepenuhnya dibiayai dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) Kutim. Kehadirannya mengakhiri ketergantungan masyarakat pada kegiatan bakti sosial yang datang tak menentu. Kini, warga pesisir seperti Sangsaka, Kaliorang, hingga Sandaran bisa mendapat jadwal operasi reguler tanpa harus menunggu mobil layanan datang.
“Dulu saya harus tunggu bakti sosial dari Samarinda, sekarang cukup datang ke sini. Nggak perlu jauh-jauh,” ujar Abdul Karim, warga Sangkulirang yang dua tahun hidup dengan penglihatan kabur akibat katarak.
Bupati Kutim Ardiansyah Sulaiman, yang hadir langsung dalam peluncuran layanan tersebut, menyebut langkah ini sebagai bagian penting dari pembangunan layanan dasar yang adil dan merata.
“Kesehatan tidak boleh berhenti di Sangatta saja. Warga di pesisir pun berhak mendapatkan pelayanan terbaik,” tegasnya.
Ia menambahkan, RSUD Sangkulirang kini diperkuat delapan dokter spesialis, terdiri dari dua ASN dan lima dokter kontrak di bidang penyakit dalam, anak, kandungan, anestesi, dan patologi klinik, ditambah satu dokter radiologi paruh waktu. Kombinasi ini menjadikan RSUD Sangkulirang sebagai rumah sakit dengan layanan spesialistik terlengkap di wilayah pesisir Kutim.
Selain teknologi operasi mata, RSUD Sangkulirang juga meluncurkan layanan USG empat dimensi dan mengoperasikan ruang Central Sterile Supply Department (CSSD), fasilitas penting yang memastikan seluruh instrumen medis tetap steril dan aman digunakan.
Menurut data Kementerian Kesehatan RI, sekitar 81 persen kasus kebutaan di Indonesia disebabkan oleh katarak — dan Kutai Timur termasuk wilayah dengan prevalensi cukup tinggi, terutama di daerah pesisir.
“Kasus terbanyak memang dari kelompok lansia. Jadi kalau akses operasi makin mudah, itu artinya kita menyembuhkan mata sekaligus mengembalikan kemandirian hidup mereka,” jelas dr. Azizah.
Langkah RSUD Sangkulirang ini menjadi tonggak penting bagi transformasi layanan kesehatan Kutim. Pemkab juga menyiapkan program dokter keliling yang akan menjangkau kecamatan terpencil seperti Karangan, Busang, dan Kaliorang untuk memperluas pemerataan pelayanan medis.
Bagi masyarakat pesisir, fasilitas ini terasa seperti cahaya yang menembus kabut panjang keterbatasan. Sebuah bukti bahwa pembangunan di Kutim kini benar-benar bergerak dari pinggiran dengan cara yang paling sederhana dan paling berarti: mengembalikan pandangan, dan dengan itu, mengembalikan harapan. (ADV/ProkopimKutim/K)













