SANGATTA — Prosesi pelepasan berlangsung khidmat dan penuh makna. Melalui program ini, mahasiswa akan diterjunkan ke dua kecamatan—Karangan dan Kaliorang—wilayah yang dikenal memiliki potensi besar sekaligus tantangan dalam pengelolaan sumber daya alam, lingkungan, dan pemberdayaan desa. Bupati Kutai Timur H. Ardiansyah Sulaiman, melalui Asisten Pemerintahan dan Kesejahteraan Rakyat (Pemkesra) Setkab Kutim, Poniso Suryo Renggono, menegaskan bahwa KKN adalah bentuk nyata kolaborasi antara akademisi dan pemerintah daerah dalam memperkuat sektor pertanian dan ketahanan pangan daerah.
Pelepasan ditandai dengan penyematan jaket almamater oleh Poniso, mewakili Bupati Kutim. Dalam arahannya, ia memberikan pesan inspiratif tentang pentingnya karakter dan integritas. “Berpikirlah positif, bertindaklah positif, maka hasilnya pun akan positif. Perilaku dan perkataan mencerminkan kualitas diri serta kesiapan memimpin di masa depan,” ujarnya.
Ketua STIPER Kutim, Ismail Fahmi Almadi, turut menyampaikan harapannya agar mahasiswa dapat menjadi agen perubahan yang mampu memberi solusi nyata bagi masyarakat desa. “Kehadiran mereka di desa adalah untuk membangun relasi sosial dan memberikan kontribusi nyata bagi warga,” ungkapnya.
Sebelum diberangkatkan, para mahasiswa telah mengikuti pembekalan intensif selama tiga hari di kampus STIPER Jalan Soekarno-Hatta, Sangatta. Mereka dilatih menyusun program kerja, memahami pendekatan partisipatif, dan komunikasi sosial. Selama KKN yang berlangsung 29 Juli hingga 10 September 2025, para mahasiswa akan fokus pada sejumlah agenda strategis, meliputi Pelatihan pertanian berkelanjutan dan ramah lingkungan, Edukasi pengelolaan sampah dan konservasi lingkungan, Pendampingan UMKM dan wirausaha desa, serta Penguatan kelembagaan dan administrasi pemerintahan desa.
Pemkab Kutim menyatakan dukungan penuh atas program ini. Pemerintah melihat partisipasi kampus adalah bagian penting dari pembangunan berbasis pengetahuan. Poniso menegaskan, “Mahasiswa STIPER adalah investasi sosial. Mereka membawa ilmu yang bisa menjadi solusi bagi tantangan desa.”
KKN adalah perjalanan lintas ruang dan kesadaran—dari teori ke praktik, dari pengetahuan ke pengabdian. Dari Karangan hingga Kaliorang, para mahasiswa STIPER akan meninggalkan jejak: bukan hanya laporan penelitian, tapi kisah tentang kepedulian dan kolaborasi. “Selamat mengabdi. Jadilah bagian dari perubahan nyata bagi masyarakat,” pesan Bupati Ardiansyah melalui perwakilannya. Dengan langkah mereka, tumbuh keyakinan bahwa ilmu yang diamalkan adalah benih yang akan menumbuhkan masa depan bagi Kutai Timur. (ADV/ProkopimKutim/K)













