
SANGATTA — Setelah berbagai turnamen lokal sukses digelar, perhatian publik sepak bola Kutai Timur kini tertuju pada wacana pelaksanaan kembali Liga 4. Anggota DPRD Kutim yang juga Manajer Persikutim, Pandi Widiarto, menyebutkan bahwa pihaknya masih melakukan kajian menyeluruh sebelum memutuskan apakah liga tersebut akan kembali dijalankan.
“Ya, masih dalam kajian kami juga ya, apakah perlu memang kami bangun Liga 4-nya lagi atau tidak, nanti kita lihat,” ujar Pandi.
Ia menjelaskan, pelaksanaan Liga 4 memiliki arti strategis dalam sistem pembinaan sepak bola daerah. Kompetisi ini, katanya, bukan hanya sekadar tontonan, tetapi merupakan tahapan penting dalam menciptakan jenjang karier pemain lokal.
“Liga 4 itu sebenarnya bagian dari sistem berjenjang. Dari kabupaten ke provinsi, lalu ke nasional. Jadi memang ada regulasinya,” tegasnya.
Pandi menilai, jika kompetisi ini jadi digelar kembali, maka persiapannya harus matang — baik dari sisi regulasi PSSI, kesiapan klub, hingga dukungan pemerintah daerah. Data Askab PSSI Kutim mencatat ada lebih dari 40 klub amatir aktif, potensi besar yang harus dioptimalkan.
“Kita tidak ingin hanya sekadar ikut kompetisi, tapi juga punya arah pembinaan yang jelas. Dari sini kita bisa lihat potensi anak-anak daerah yang bisa naik ke level profesional,” tandasnya.
Pandi juga menekankan pentingnya sinergi antarunsur sepak bola — mulai dari pemerintah daerah, sponsor, hingga komunitas suporter — agar liga bisa berjalan konsisten dan memberi manfaat bagi perkembangan olahraga di Kutai Timur.
Bagi Pandi Widiarto, kebangkitan sepak bola Kutai Timur tidak cukup hanya dengan euforia pertandingan, tetapi dengan sistem pembinaan yang berkelanjutan. Ia menyimpulkan, Liga 4 diharapkan menjadi wadah regenerasi dan kebanggaan baru bagi sepak bola Kutim — dari lapangan kampung hingga panggung nasional. (ADV)













