
Kutai Timur — Kabupaten Kutai Timur dinilai sangat mampu mewujudkan kemandirian pangan daerah. Anggota DPRD Kutim, dr. Novel Tyty Paembonan, mengapresiasi potensi lahan yang luas dan kondisi tanah yang subur sebagai modal utama. Namun, ia menegaskan, optimisme itu harus diimbangi dengan kebijakan yang tepat dan keberpihakan pada sektor produksi.
“Oh kita sangat optimis, yang pasti ketika lahan itu punya potensi untuk menjadi lahan pertanian,” ungkap dr. Novel saat ditemui di Gedung DPRD Kutai Timur, belum lama ini.
Ia menjelaskan, keberhasilan pembangunan pertanian tidak hanya bergantung pada luas lahan, tetapi juga pada kejelasan status legalitas dan dukungan nyata terhadap para petani. Pemerintah daerah, katanya, harus memastikan agar setiap program yang dijalankan benar-benar memberi manfaat langsung.
“Statusnya jelas, petaninya ada, yakin pemerintah pasti akan support,” tambahnya dengan nada optimis.
Novel menyoroti, dari sekitar 78 ribu hektare lahan potensial, baru 45 persen yang dimanfaatkan aktif. Kondisi ini menunjukkan besarnya ruang untuk ekspansi lahan produktif yang bisa mendorong peningkatan hasil pangan daerah.
Ia menilai, dukungan infrastruktur seperti irigasi, alat pertanian, pupuk, dan bibit unggul adalah faktor krusial. Selain itu, Novel menekankan pentingnya sinkronisasi kebijakan antara pusat dan daerah.
Novel yakin, dengan optimalisasi lahan tidur dan pembinaan berkelanjutan, Kutim dapat melampaui target Indeks Pertanaman (IP) yang ditetapkan Kementerian Pertanian.
“Kalau semua unsur bergerak bersama—pemerintah, petani, dan masyarakat—saya yakin Kutim bisa menjadi daerah pertanian maju di Kalimantan Timur,” ujarnya penuh semangat.
Bagi dr. Novel Paembonan, kemandirian pangan bukan hanya soal menanam dan memanen, tetapi tentang menghadirkan kebijakan yang berpihak dan sistem yang berjalan. Ia menyimpulkan, dengan potensi yang besar dan dukungan nyata, Kutim bisa tumbuh menjadi lumbung pangan masa depan Kalimantan Timur. (ADV)













