Kutai Timur — Sepekan setelah kecelakaan tragis yang menewaskan seorang warga di Jalan Road 9 akibat bus perusahaan, masyarakat Sangatta mulai mengekspresikan kekecewaannya melalui aksi protes berupa spanduk-spanduk yang bertebaran di berbagai sudut kota. Spanduk-spanduk tersebut memuat kecaman terhadap perusahaan pengelola bus sekaligus kritik atas sikap pemerintah daerah yang dianggap lamban dan bungkam dalam menanggapi kejadian tersebut.
Fenomena ini mendapat perhatian dari kalangan mahasiswa. Yogi Oktanis, Wakil Presiden Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) STIPER Kutai Timur, menilai kemunculan spanduk adalah bentuk wajar dari ekspresi kekecewaan dan kecemasan masyarakat. Menurut Yogi, aksi tersebut merupakan suara publik yang menuntut keadilan dan perlindungan keselamatan.
“Kita tak perlu heran dengan spanduk yang bertebaran itu, karena itulah bentuk kekecewaan masyarakat, bentuk protes masyarakat, dan juga bentuk kecemasan masyarakat Sangatta,” ujar Yogi.
Yogi mengkritik pemerintah daerah karena hingga saat ini belum terlihat adanya langkah konkret yang diambil untuk menanggapi tragedi tersebut. Ia mengingatkan bahwa pembiaran semacam ini justru berpotensi meningkatkan risiko terjadinya kecelakaan serupa di masa mendatang.
“Kita harus menunggu sampai kapan? Apakah korban harus bertambah supaya pemerintah bisa melihat?” tegas Yogi.
Lebih lanjut, Yogi menegaskan bahwa keselamatan di jalan umum, khususnya yang melibatkan kendaraan operasional perusahaan, bukanlah masalah sektoral. Menurutnya, persoalan ini merupakan ancaman bagi seluruh masyarakat, tidak terkecuali warga yang sehari-hari menggunakan fasilitas transportasi publik. Ia menekankan perlunya tindakan nyata dan sistematis dari pihak berwenang untuk mencegah terulangnya kecelakaan yang merenggut nyawa.
Protes masyarakat melalui spanduk ini juga menyoroti perlunya transparansi dan tanggung jawab perusahaan terhadap keselamatan pengendara dan penumpang. Yogi menilai langkah preventif jauh lebih penting dibanding menunggu korban berikutnya agar pemerintah bertindak.
Hingga berita ini diturunkan, belum ada pernyataan resmi dari pemerintah daerah maupun perusahaan terkait tuntutan yang disuarakan warga. Fenomena spanduk protes ini menjadi sinyal bagi otoritas setempat bahwa masyarakat mengharapkan perhatian serius terhadap keselamatan transportasi dan tindakan nyata untuk mencegah tragedi serupa di masa mendatang.












