SANGATTA — Gerakan “Hentikan Sampah Plastik” di Kabupaten Kutai Timur (Kutim) terus berdenyut meski bulan peringatan Hari Lingkungan Hidup telah lama berlalu. Memasuki Oktober 2025, semangat ramah lingkungan justru semakin mengakar di sekolah-sekolah. Dari SD Negeri 002 Sangatta Utara hingga SMP di Bengalon, anak-anak aktif menggelorakan kampanye melawan plastik sekali pakai melalui aksi nyata: membawa tumbler, memakai tas belanja kain, dan menciptakan karya kreatif bertema lingkungan.
Plt Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kutim, Dewi Dohi, menyebut gerakan ini berkembang jauh melampaui harapan awal.
“Dulu cuma lomba pas Hari Lingkungan Hidup, sekarang sudah jadi kebiasaan harian di sekolah. Anak-anak saling menegur kalau ada yang bawa plastik. Ini kemajuan besar,” ucapnya.
Dewi juga menjelaskan bahwa dukungan orang tua dan guru menjadi penentu keberhasilan gerakan ini. Beberapa sekolah bahkan telah mendirikan bank sampah sederhana. Dari sana, anak-anak belajar memilah organik dan anorganik, lalu hasil daur ulangnya digunakan untuk kegiatan sekolah.
“Ada yang dijadikan pot bunga, ada juga yang dijual. Jadi anak-anak belajar soal ekonomi sirkular, walau sederhana,” tambahnya.
Salah satu orang tua murid, Elia Sofia, mengaku terkejut dengan perubahan sikap anaknya.
“Sekarang kalau saya belanja pakai plastik, langsung ditegur. Katanya, ‘Bu, nanti lautnya kotor’. Lucu, tapi bikin sadar,” katanya sambil tertawa.
Data dari Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) menunjukkan, Indonesia menghasilkan lebih dari 60 juta ton sampah per tahun, dan sekitar 17 persen di antaranya adalah plastik. Di Kutim, DLH memperkirakan volume sampah mencapai 180 ton per hari, di mana 25–30 ton di antaranya berupa plastik rumah tangga.
“Angka itu bukan kecil, apalagi sebagian besar belum terkelola dengan baik,” ujar Dewi menambahkan.
Untuk memperkuat gerakan ini, DLH Kutim menargetkan program Sekolah Bebas Plastik mulai dijalankan secara bertahap pada tahun 2026. Program ini akan menyasar sekolah-sekolah di kecamatan pesisir dan perkotaan, dengan melibatkan komunitas, dunia usaha, serta organisasi pemuda.
“Harapan kami, budaya ini tidak berhenti di sekolah. Harus menular ke rumah, ke pasar, ke kantor, dan ke ruang publik. Kita mulai dari anak-anak karena mereka cepat belajar dan cepat menular,” ujar Dewi.
Gerakan kecil ini, yang dimulai dari ruang kelas, kini menjelma menjadi simbol kesadaran baru di Kutim. Dari tangan-tangan mungil yang memilah sampah, tumbuh generasi yang lebih peduli pada bumi. Di antara tumpukan botol plastik yang mulai berkurang, ada harapan besar — bahwa masa depan lingkungan bisa dibangun dari satu tindakan sederhana: memilih untuk tidak membuang. (ADV/ProkopimKutim/K)












