SANGATTA – Pemerintah Kabupaten Kutai Timur (Kutim) memastikan laju inflasi daerah masih berada pada kondisi yang terkendali. Meski demikian, pemerintah menilai akurasi data harga di pasar perlu diperbaiki agar kebijakan pengendalian inflasi benar-benar sesuai dengan kondisi riil masyarakat.
Hal itu mengemuka dalam rapat pemantauan inflasi yang digelar di Ruang Rapat Diskominfo Staper Kutim beberapa waktu lalu. Wakil Bupati Kutim Mahyunadi mengatakan inflasi daerah tidak mengalami lonjakan maupun penurunan yang signifikan sehingga daya beli masyarakat dinilai masih terjaga.
Meski stabil, Mahyunadi menyoroti harga telur ayam yang masih berada di atas harga acuan nasional. Di pasar lokal, harga rata-rata mencapai Rp1.927 per butir atau sekitar Rp34.700 per kilogram jika dihitung berdasarkan satu piring berisi 18 butir. Angka tersebut lebih tinggi sekitar Rp4.700 dibandingkan harga acuan nasional.
Menurutnya, perbedaan satuan penghitungan antara kilogram dan butir menjadi kendala dalam membandingkan harga secara langsung. Selain itu, pemerintah menemukan adanya selisih antara data harga yang dilaporkan dengan kondisi di lapangan, terutama pada komoditas cabai merah.
“Pemantauan harus lebih teliti dan dilakukan cross-check agar data benar-benar mencerminkan kondisi pasar,” ujar Mahyunadi.
Secara nasional inflasi tercatat 0,41 persen secara bulanan dan 3,84 persen secara tahunan. Sementara Indeks Perkembangan Harga (IPH) Kutim mencapai 0,99 persen.
Dalam rapat tersebut, pemerintah juga mendorong efisiensi energi melalui penggunaan kendaraan listrik di lingkungan perangkat daerah. Sementara itu, Ketua DPRD Kutim Jimmi mengajak masyarakat memanfaatkan pekarangan untuk menanam cabai serta mendorong produksi pakan ternak mandiri guna menjaga stabilitas harga pangan. (ADV/ProkopimKutim/KR)













