
Kutai Timur — Sektor tambang dan perkebunan sawit masih mendominasi struktur ekonomi daerah, sebuah kondisi yang disoroti Anggota DPRD Kutai Timur, dr. Novel Tyty Paembonan. Ia menilai ketergantungan yang terlalu besar terhadap kedua sektor tersebut menghambat upaya mewujudkan kemandirian pangan serta memperkuat ekonomi rakyat.
“Kutim ini punya lahan tidur yang sangat besar, sangat luas, yang sampai hari ini belum kita manfaatkan,” ungkapnya.
Menurut Novel, potensi pertanian Kutai Timur sangat besar jika pemerintah daerah mampu mengubah orientasi pembangunan dari eksploitasi sumber daya alam menuju pemberdayaan sektor produktif. Ia memaparkan, dengan posisi geografis dan iklim tropis yang stabil, Kutim memiliki keuntungan besar.
“Kita ini di negara tropis. Tidak ada musim dingin, tidak ada salju. Sepanjang 12 bulan, apapun bisa kita tanam,” jelasnya.
Novel mencatat, dari 78 ribu hektare lahan potensial, baru sekitar 45 persen yang digarap aktif. Ia menekankan, kontribusi sektor pertanian yang masih di bawah 10 persen PDRB adalah “alarm” bagi pemerintah daerah untuk segera melakukan diversifikasi.
Ia mendorong investasi di bidang pertanian, peningkatan kapasitas petani, dan pemanfaatan teknologi modern agar produktivitas lahan meningkat dan kesejahteraan petani ikut terangkat.
“Kalau Kutim serius menggarap sektor pertanian, bukan tidak mungkin kita menjadi daerah mandiri pangan bahkan mampu menyuplai ke daerah lain,” tegasnya.
Novel menyimpulkan, kebijakan pembangunan daerah harus diarahkan pada pengelolaan lahan produktif dan pemberdayaan petani lokal. Pembukaan lahan baru, penyediaan pupuk, alat pertanian, dan akses pembiayaan wajib menjadi prioritas.
Bagi dr. Novel Paembonan, ketahanan pangan bukan hanya urusan dapur, tetapi soal kedaulatan ekonomi Kutai Timur di masa depan. Ia menegaskan, dengan menggeser fokus dari tambang ke tani, Kutim dapat berdiri di atas kekuatannya sendiri—menjadi penopang pangan Kalimantan Timur. (ADV)













