SANGATTA – Pemerintah Kabupaten Kutai Timur tidak hanya mematangkan perencanaan pembangunan RSUD Wahau, tetapi juga menyiapkan skema pembiayaan alternatif agar proyek tersebut tetap berjalan sesuai target meski dukungan dari pemerintah pusat belum dipastikan.
Kepala Dinas Kesehatan Kutim, dr Yuwana Sri Kurniawati, mengatakan pemerintah daerah terus berkoordinasi dengan Bappenas dan Bappeda Provinsi Kalimantan Timur untuk memperoleh dukungan anggaran melalui APBN. Namun, apabila belum tersedia, pembangunan akan tetap diupayakan melalui APBD Kutim.
“Harapan kami tentu mendapat dukungan dari APBN, tetapi jika belum memungkinkan, pemerintah daerah telah menyiapkan alternatif pembiayaan,” ujarnya.
RSUD Wahau dirancang sebagai rumah sakit rujukan bagi masyarakat di wilayah hulu Kutim. Menurut Yuwana, proyek tersebut merupakan bagian dari pemerataan layanan kesehatan sekaligus upaya mendekatkan akses pelayanan medis.
Lokasi pembangunan kini berada di Desa Wanasari setelah rencana awal di Desa Karya Bhakti dialihkan akibat kendala tata ruang. Lahan hibah seluas sekitar tiga hektare telah dipastikan memiliki legalitas yang jelas.
Tahun ini, Pemkab memusatkan perhatian pada penyelesaian Feasibility Study, DED, masterplan, dan UKL-UPL bekerja sama dengan Universitas Mulawarman.
Perwakilan Unmul, Dr Ratno Andrianto, menjelaskan kajian akademis akan menghasilkan data komprehensif mengenai kebutuhan pembangunan rumah sakit sehingga menjadi dasar penyusunan desain teknis.
Sesuai roadmap, pembangunan fisik ditargetkan dimulai pada 2027 dan berlangsung hingga 2028. Setelah infrastruktur selesai, pemerintah akan melengkapi alat kesehatan, sarana pendukung, dan tenaga medis dengan target operasional penuh pada 2029. (ADV/ProkopimKutim/KR)













