YOGYAKARTA — Wisuda yang dihadiri oleh Menteri ATR/BPN Nusron Wahid dan Wakil Menteri Ossy Dermawan tersebut menjadi kebanggaan bagi Kutim. Bagi pemerintah daerah, kelulusan para taruna bukan sekadar capaian akademik, tetapi wujud nyata dari visi panjang dalam memperkuat kapasitas aparatur di sektor agraria.
Salah satu lulusan terbaik, Durry Hanan dari Kecamatan Sangatta Utara, berhasil meraih predikat lulusan terbaik jalur kerja sama program D1 Pengukuran dan Pemetaan Kadasteral. Capaian ini menjadi simbol keberhasilan investasi pendidikan jangka panjang yang dilakukan Pemkab Kutim.
“Kami berharap para lulusan STPN dapat mengabdi dan berkontribusi nyata dalam upaya pemerintah daerah menata administrasi pertanahan serta mendukung 50 program Bupati dan Wakil Bupati Kutim,” ujar Plt Asisten Pemerintahan dan Kesejahteraan Rakyat (Pemkesra) Setkab Kutim, Trisno.
Ia menuturkan, program kerja sama dengan STPN berawal dari gagasan yang muncul pada tahun 2013, ketika Ardiansyah Sulaiman masih menjabat Wakil Bupati mendampingi Isran Noor, bersama Rizali Hadi yang saat itu menjadi Kabag Tata Pemerintahan.
“Gagasan ini lahir dari kesadaran bahwa Kutim membutuhkan tenaga profesional di bidang pengukuran dan pemetaan tanah yang berasal dari putra-putri daerah sendiri,” tuturnya.
Program tersebut resmi berjalan sejak 2015 dan hingga kini telah melahirkan tiga angkatan lulusan. Para alumni diharapkan menjadi tulang punggung pengelolaan agraria di Kutim, terutama untuk mendukung program strategis seperti 1 KK 1 Sertifikat, Desa Presisi, dan penyelesaian enklave kawasan hutan.
“Kabupaten seluas Kutim tentu butuh tenaga pemetaan yang mumpuni agar kebijakan agraria bisa tepat sasaran dan berpihak pada masyarakat,” jelas Trisno.
Ia menambahkan, kehadiran para lulusan STPN bukan hanya menambah tenaga teknis, tetapi juga menjadi simbol keberlanjutan investasi sumber daya manusia.
“Kutim kini tidak hanya memiliki lulusan, tetapi juga aset pengetahuan yang siap kembali untuk mengabdi di tanah kelahiran mereka,” imbuhnya.
Program ini sekaligus menegaskan bahwa penguatan SDM berbasis agraria adalah langkah strategis menuju kemandirian daerah dalam menata lahan, meningkatkan kepastian hukum pertanahan, dan memperkuat kesejahteraan masyarakat.
Dari gagasan satu dekade lalu hingga kini berbuah generasi ahli, Kutim membuktikan bahwa membangun manusia adalah pondasi utama dalam menata tanah, menata data, dan menata masa depan daerah. (ADV/ProkopimKutim/K)













