SAMARINDA — Pembangunan Sekolah Rakyat di Kutai Timur diarahkan bukan sekadar menghadirkan gedung pendidikan baru. Program tersebut diproyeksikan menjadi instrumen untuk memperluas akses pendidikan bagi anak-anak dari keluarga miskin dan membantu memutus rantai kemiskinan.
Kepala Dinas Sosial Provinsi Kalimantan Timur, Andi M. Ishak, menegaskan hal itu saat menerima audiensi jajaran Pemerintah Kabupaten Kutai Timur di Samarinda, Kamis (20/8/2026). Pertemuan tersebut membahas percepatan persiapan Sekolah Rakyat di Simono, Teluk Lingga, Sangatta.
Menurut Andi, sasaran program memiliki kondisi sosial yang beragam. Sebagian anak bahkan belum memperoleh pendidikan secara layak karena persoalan ekonomi maupun kondisi keluarga.
“Sekolah Rakyat ini bukan sekadar sekolah. Tujuan utamanya adalah memutus rantai kemiskinan melalui pendidikan,” ujarnya.
Karena itu, pelaksanaan program membutuhkan keterlibatan lintas sektor. Peran keluarga juga dinilai penting untuk membangun kesadaran mengenai pendidikan.
Di Kutim, pemerintah daerah kini berupaya memenuhi 12 persyaratan agar lokasi Simono dapat masuk Tahap 3B. Dari kebutuhan tersebut, sejumlah komponen telah tersedia, termasuk lahan seluas delapan hektare yang telah menjalani land clearing.
Pemkab juga telah menyiapkan data calon penerima manfaat kategori desil 1 dan 2, dokumen hibah, surat pernyataan minat, jaminan lahan bebas sengketa, hingga dukungan jaringan listrik, air, dan telekomunikasi.
Asisten II Sekretariat Kabupaten Kutim Bidang Perekonomian dan Pembangunan, Noviari Noor, mengatakan pihaknya ingin memastikan tidak ada persyaratan yang terlewat.
Sementara Asisten I Bidang Pemerintahan Umum dan Kesra Kutim, Trisno, menyebut kesiapan daerah mencapai sekitar 70 persen. Sejumlah dokumen teknis, seperti sertifikasi lahan, soil test, topografi, serta pematangan lahan, masih dikebut.
Kutim berharap kelengkapan tersebut segera terpenuhi sehingga lokasi Simono dapat masuk kelompok 3B dan berlanjut menuju proses lelang pembangunan. (ADV/ProkopimKutim/KR)













