SANGATTA – Dengan tema besar pemberdayaan dan kemandirian, pelantikan ini menegaskan peran strategis perempuan Nahdlatul Ulama dalam membangun umat dan bangsa. Bupati Kutai Timur H. Ardiansyah Sulaiman hadir langsung memberi sambutan inspiratif — mengajak perempuan NU untuk menjadi penggerak ekonomi lokal dan agen perubahan sosial.
Momen simbolik penyerahan bendera organisasi dari PW Fatayat NU Kaltim kepada Ketua PC Fatayat NU Kutim, Lu’luul Wafiroh, menandai resminya kepemimpinan baru perempuan muda NU Kutim. Acara ditutup dengan penandatanganan berita acara dan lantunan Hymne Fatayat NU yang menggema di seluruh ruangan.
Turut hadir sejumlah tokoh penting, antara lain Ketua PCNU Kutim Sismanto, Pembina Fatayat Hj. Sulasih, serta Ketua DWP Kutim Lisnawati.
Dalam sambutannya, Ketua PC Fatayat NU Kutim Lu’luul Wafiroh menegaskan komitmen organisasinya untuk memperluas jangkauan. “Kami ingin Fatayat hadir di tengah masyarakat, bukan hanya di panggung acara, tapi di lapangan. Menjadi pelopor sosial, pendidikan, dan ekonomi perempuan,” tegasnya.
Sementara itu, Bupati Ardiansyah Sulaiman menekankan pentingnya sinergi antara organisasi perempuan dengan agenda pembangunan daerah. “Fatayat NU Kutim diharapkan dapat berinovasi dan berperan dalam penguatan ekonomi lokal. Silakan ambil bagian dalam mendorong kemajuan UMKM dan ketahanan pangan. Produk-produk Kutim kini sudah menembus pasar internasional,” ujar Ardiansyah.
Ia juga mengingatkan, pembangunan tidak dapat berjalan tanpa gotong royong semua pihak. “Perempuan adalah pilar utama keluarga dan masyarakat. Melalui Fatayat NU, saya berharap lahir program-program pemberdayaan yang menguatkan perempuan secara ekonomi, sosial, dan budaya,” tandasnya.
Ketua PCNU Kutim, Sismanto, turut memberikan refleksi. “NU itu rumah besar. Dan badan otonom seperti Fatayat adalah jendela yang harus terus dibuka agar angin segar ide dan pembaharuan masuk,” ujarnya.
Dari PW Fatayat NU Kaltim, Erni Tresnawati menegaskan bahwa Fatayat harus hadir menjawab persoalan nyata umat. “Fatayat membawa nama besar NU. Maka tanggung jawabnya adalah tanggung jawab mulia,” ungkapnya.
Dengan semangat baru, Fatayat NU Kutim kini memikul tanggung jawab lebih besar — menjadi pelita di tengah masyarakat, menguatkan ukhuwah, serta menggerakkan ekonomi umat dari bawah. Bahwa perempuan NU Kutai Timur akan terus berkhidmat — membangun dengan hati, berjuang dengan ilmu, dan berinovasi untuk umat. (ADV)













