
SANGATTA — Anggota DPRD Kutai Timur (Kutim) dari Partai Gelora, Shabaruddin, kembali menyoroti kondisi fasilitas pendidikan yang masih memprihatinkan di berbagai wilayah. Ia menegaskan bahwa perbaikan sektor pendidikan tidak bisa ditunda lagi—ia harus menjadi prioritas nyata dalam kebijakan pembangunan daerah.
“Dinas Pendidikan memang menyerap anggaran besar, tapi itu wajar sebab masalah di lapangan juga masih menumpuk. Terutama soal RKB (Ruang Kelas Baru) yang belum mencukupi dan bangunan lama yang sudah rusak parah,” ujarnya saat ditemui di Gedung DPRD Kutim.
Menurutnya, masih banyak sekolah di Kutim—terutama di wilayah pedalaman seperti Long Mesangat, Busang, Sandaran, hingga Kaubun—yang berada dalam kondisi memprihatinkan. Beberapa ruang kelas mengalami kerusakan berat: atap bocor, dinding retak, hingga lantai jebol. “Ada sekolah yang terpaksa menumpang di rumah warga atau balai desa karena bangunannya tidak layak pakai. Kondisi ini tidak boleh dibiarkan berlarut-larut,” tegasnya.
Data Dinas Pendidikan Kutim tahun 2024 mencatat setidaknya 127 gedung sekolah dasar dan menengah masih membutuhkan renovasi besar, sementara pembangunan Ruang Kelas Baru (RKB) baru terealisasi sekitar 45 persen dari target. Kondisi ini, kata Shabaruddin, secara langsung menghambat proses belajar dan bahkan membahayakan keselamatan siswa.
Politisi yang dikenal vokal memperjuangkan isu pendidikan ini menegaskan, Komisi D DPRD Kutim akan terus mengawal agar alokasi anggaran pendidikan benar-benar menyentuh kebutuhan riil di lapangan, dan tidak tertahan di meja perencanaan.
“Masih banyak sekolah yang dindingnya retak, lantainya berlubang. Ini harus menjadi perhatian penuh pemerintah. Pembangunan tidak boleh hanya di kota, tapi desa juga harus merasakan alokasi yang adil,” katanya.
Selain infrastruktur, Shabaruddin menekankan pentingnya pemerataan tenaga pendidik dan peningkatan kesejahteraan guru. Ia menyoroti masih banyak sekolah di pelosok Kutim yang kekurangan guru tetap dan sangat mengandalkan tenaga honorer.
“Jika jumlah guru tidak cukup, dan fasilitasnya rusak, bagaimana anak-anak bisa belajar dengan baik? Pemerintah wajib hadir. Pendidikan ini adalah investasi jangka panjang dan paling penting bagi daerah,” ujarnya.
Sebagai wakil rakyat dari Partai Gelora, Shabaruddin menegaskan komitmennya untuk terus memperjuangkan anggaran pendidikan yang berpihak pada rakyat kecil. Ia menilai, masa depan Kutai Timur bergantung pada seberapa serius daerah ini membangun fondasi pendidikannya.
“Jika anak-anak belajar di tempat yang nyaman dan aman, mereka punya peluang besar untuk berprestasi. Tapi jika bangunan saja rusak, semangat pun ikut runtuh. Ini adalah tanggung jawab kita semua—pemerintah, DPRD, dan masyarakat,” pungkasnya.
Dengan langkah nyata memperbaiki fasilitas sekolah dan memperkuat tenaga pendidik, Shabaruddin berharap Kutim benar-benar bisa mencetak generasi muda yang cerdas, tangguh, dan siap memimpin masa depan daerahnya. (ADV)













