SANGATTA — Cuaca panas yang melanda Kutai Timur menjadi perhatian aparat dalam menghadapi potensi kebakaran hutan dan lahan (karhutla). Namun, Dandim 0909/KTM Letkol Czi Zaenal Abidin mengingatkan bahwa kondisi alam bukan satu-satunya faktor pemicu kebakaran. Aktivitas manusia saat membuka lahan juga dinilai menjadi persoalan yang harus dicegah.
Hal tersebut disampaikan Zaenal dalam rapat koordinasi penanganan Karhutla yang digelar di Aula BPBD Kutai Timur. Forum tersebut mempertemukan Bupati Kutai Timur Ardiansyah Sulaiman, jajaran Forkopimda, dan perwakilan perusahaan.
Zaenal mengatakan aparat tidak ingin penanganan karhutla hanya berfokus pada pemadaman. Jika kebakaran diketahui berasal dari pembakaran lahan yang disengaja, proses hukum harus dilakukan untuk memberikan efek jera.
Kodim 0909/KTM telah berkoordinasi dengan Polres Kutai Timur mengenai langkah penindakan tersebut. Salah satu kasus di Sangatta disebut telah berujung pada proses hukum dan penahanan terhadap pelaku.
Penanganan juga diarahkan pada lokasi yang tidak jelas kepemilikannya. Apabila lahan terbakar dan tidak ada pihak yang mengakui kepemilikan, aparat akan mengamankan lokasi serta memasang garis polisi.
Zaenal meminta pemerintah di tingkat kecamatan dan desa ikut berperan dalam mencegah praktik pembukaan lahan dengan pembakaran. Camat dan kepala desa diharapkan menyampaikan risiko serta konsekuensi tindakan tersebut kepada masyarakat.
Pada aspek operasional, jajaran Kodim memanfaatkan data hotspot dari aplikasi pemantauan untuk mendeteksi potensi kebakaran. Koramil kemudian ditugaskan melakukan pengecekan langsung terhadap titik yang terpantau.
Kendaraan operasional di wilayah selatan turut dimaksimalkan untuk mendukung pergerakan personel dan penanganan awal.
Zaenal juga mendorong pendekatan keagamaan sebagai bagian dari edukasi publik. Pesan larangan membakar lahan diusulkan masuk dalam khutbah Jumat dan kegiatan keagamaan di gereja.
Menurut dia, kesadaran masyarakat penting dibangun karena dampak karhutla tidak hanya menyangkut lingkungan, tetapi juga kesehatan dan kerugian ekonomi. (ADV/ProkopimKutim/KR)













