
SANGATTA — Kasus kekerasan terhadap perempuan dan anak di Kutai Timur masih menjadi pekerjaan rumah yang mendesak. Berdasarkan data DP3A Kutim, sejak Januari hingga Oktober 2024 tercatat 77 kasus kekerasan. Angka ini memicu perhatian serius dari Hj. Mulyana, Anggota DPRD Kutai Timur periode 2025–2029 dari Partai Amanat Nasional (PAN).
Melihat kondisi itu, Mulyana menyatakan komitmennya untuk memperkuat langkah pencegahan dengan menggandeng lembaga-lembaga terkait.
“Yang terpenting itu ada sosialisasi berkelanjutan kepada masyarakat. Kita harus bekerja bersama agar pencegahan berjalan lebih aktif dan menyeluruh,” ujarnya saat ditemui di Gedung DPRD Kutai Timur.
Hj. Mulyana menekankan bahwa pemberdayaan perempuan tidak hanya soal partisipasi sosial, tetapi juga soal kemampuan melindungi diri dan menanamkan pesan positif di lingkungan sekitar.
“Sebagai perempuan, kita harus berperan aktif dan memberikan kesan yang baik di tengah masyarakat agar terhindar dari kekerasan,” tuturnya.
Politisi dari Dapil II Kutai Timur itu menilai bahwa peningkatan literasi sosial dan kesadaran hukum masyarakat harus menjadi prioritas. Ia berpendapat, sosialisasi berkelanjutan dari DP3A dan organisasi masyarakat seperti LPAI akan memperkuat upaya pencegahan sejak dini.
Lebih lanjut, Hj. Mulyana menegaskan DPRD Kutim siap menjadi mitra strategis bagi pemerintah daerah dan lembaga perlindungan anak dalam menciptakan lingkungan yang aman dan ramah bagi perempuan serta anak-anak.
“Kita akan berkolaborasi dengan DP3A dan LPAI agar kegiatan sosialisasi dan pemberdayaan bisa berjalan lebih efektif,” tegasnya.
Ia juga berharap agar seluruh elemen masyarakat ikut mengambil peran, karena isu kekerasan terhadap perempuan dan anak tidak bisa diselesaikan oleh pemerintah saja. “Kita semua punya tanggung jawab moral untuk melindungi generasi penerus,” politisi perempuan dari Partai Amanat Nasional (PAN) ini.
Di akhir pernyataannya, Hj. Mulyana menyimpulkan bahwa pembangunan daerah yang sejati bukan hanya tentang infrastruktur, tetapi juga tentang pembangunan manusia yang terlindungi dan berdaya.
“Kalau perempuan dan anak-anak merasa aman, maka Kutai Timur akan tumbuh menjadi daerah yang kuat, beradab, dan penuh kasih,” tutup Hj. Mulyana. (ADV)













