SANGATTA – Dalam rangkaian kegiatan sosialisasi dan simulasi penanggulangan bencana di Gedung Serba Guna (GSG) Bukit Pelangi, Kepala Pelaksana BPBD Kutim, Sulastin, menegaskan bahwa banjir adalah salah satu ancaman bencana paling sering terjadi di wilayah Kutim. Oleh karena itu, kolaborasi lintas sektor dan pembentukan posko siaga menjadi elemen penting dalam meminimalkan risiko.
“Tingginya potensi banjir di Kutim mendasari pentingnya kegiatan ini. Tujuannya jelas: menyusun skenario penanggulangan banjir yang terstruktur dan terkoordinasi,” ujar Sulastin.
Kegiatan tersebut dibagi menjadi tiga tahapan utama: sosialisasi dokumen, gladi ruang (table top exercise/TTX), dan gladi posko (command post exercise/TCX). Gladi ruang dan posko menjadi wadah praktis untuk menguji kesiapan operasional dan sinergi antarinstansi dalam menghadapi skenario darurat.
Sementara itu, Kepala Pelaksana BPBD Kaltim yang diwakili oleh Ivan Ramdhany, menekankan pentingnya sikap sigap dan tanggap dalam menghadapi setiap potensi bencana.
“Sosialisasi ini sangat krusial agar penanganan bencana dapat dilakukan secara jelas dan sistematis,” tambahnya.
Bupati Kutim, yang diwakili oleh Plt Asisten Pemerintahan Umum dan Kesra Trisno, menyoroti fakta geografis Kutim yang memiliki empat Daerah Aliran Sungai (DAS), sehingga risiko banjirnya sangat tinggi. Trisno mengingatkan kembali tantangan yang pernah dihadapi saat penanganan banjir besar di Sangatta pada tahun 2022, di mana respons sempat terhambat.
“Persiapan adalah kunci utama dalam penanganan bencana,” tegas Trisno.
Ia menjelaskan bahwa banjir sebetulnya dapat diprediksi 24-48 jam sebelumnya jika didukung oleh alat deteksi yang memadai, seperti alat pengukur ketinggian air. Ia mencontohkan pengalamannya menggunakan aplikasi ArcGIS untuk mitigasi banjir, yang memungkinkan penanganan dilakukan secara lebih optimal.
“Semoga dengan adanya Dokumen Kontingensi Banjir ini, mitigasi banjir di Kutim dapat dilakukan secara maksimal,” harapnya.
Pelaksanaan sosialisasi dan gladi ini diharapkan dapat menghasilkan skenario penanggulangan yang matang, menjamin koordinasi yang efektif, dan mempersiapkan seluruh elemen pemerintah daerah dan masyarakat untuk menghadapi potensi banjir di masa depan. (ADV/ProkopimKutim/K)













