SANGATTA — Ibu yang baru melahirkan tetap memiliki kemungkinan hamil meski menstruasi belum kembali. Kondisi itu menjadi salah satu alasan pentingnya konseling keluarga berencana (KB) sejak masa nifas untuk mencegah kehamilan terlalu dekat sekaligus mendukung upaya penurunan stunting di Kutai Timur (Kutim).
Pesan tersebut disampaikan Ketua PC Ikatan Bidan Indonesia (IBI) Kutim, Yuliana Kala’Lembang, dalam Sosialisasi Keluarga Berencana Pascasalin sebagai Upaya Pencegahan Stunting yang digelar Dinas Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana (DPPKB) Kutim di Ruang Tempudau, Kantor Bupati Kutim.
Dalam kegiatan itu, sekitar 100 peserta menerima materi mengenai konseling KB pada ibu nifas selama 42 hari. Peserta berasal dari penyuluh KB, kader TPK, kader KB, penggerak PKK, pasangan usia subur, serta unsur undangan lainnya.
Yuliana menjelaskan masa nifas merupakan periode pemulihan sejak plasenta lahir hingga organ reproduksi kembali ke kondisi normal. Selama enam pekan tersebut, ibu mengalami berbagai perubahan fisik dan hormonal serta menjalani proses laktasi.
Ia menyebut ovulasi dapat berlangsung sebelum menstruasi pertama. Karena itu, ketiadaan haid tidak otomatis berarti seorang ibu belum subur kembali.
Konseling diperlukan agar pasangan memahami pilihan kontrasepsi dan dapat menentukan metode berdasarkan kondisi kesehatan, status menyusui, riwayat penyakit, serta rencana memiliki anak.
Salah satu metode yang diperkenalkan ialah metode amenore laktasi (MAL). Metode ini dapat digunakan ketika bayi berusia kurang dari enam bulan, mendapat ASI eksklusif, dan ibu belum menstruasi. Efektivitasnya dapat mencapai 98 persen bila seluruh syarat terpenuhi.
Selain MAL, peserta mendapat penjelasan mengenai kondom, IUD atau AKDR, pil progestin, suntik tiga bulan, dan implant.
Plh Kepala DPPKB Kutim Yuriansyah menilai kemitraan dengan IBI perlu terus diperkuat karena bidan memiliki peran strategis dalam pelayanan KB dan pendampingan ibu di masyarakat. (ADV/ProkopimKutim/KR)













