
SANGATTA — Anggota DPRD Kutai Timur, dr. Novel Tyty Paembonan, menyerukan pentingnya rencana penataan jangka menengah bagi Kota Sangatta. Ia berharap pemerintah daerah memiliki visi pembangunan kota yang konkret dan terukur agar Sangatta mampu menjawab tantangan urbanisasi yang semakin meningkat.
“Saya berharap sebenarnya kepala daerah kita ini punya rencana yang dalam lima tahun menata lah kota Sangatta,” ujarnya usai rapat di Gedung DPRD Kutim, belum lama ini.
Menurut politisi Partai Gerindra itu, penataan kota tidak selalu memerlukan biaya besar, tetapi membutuhkan konsistensi, niat baik, dan koordinasi antarinstansi. Dengan perencanaan yang disiplin, tata kota dapat dikembangkan tanpa mengorbankan kenyamanan warga dan ruang hijau yang tersisa.
“Dalam kota saja sebenarnya tidak sulit menurut saya. Asal kita sama-sama mau punya niat yang baik, kita laksanakan itu dengan baik,” tambahnya.
Salah satu perhatian utama dr. Novel adalah kondisi sepanjang Jalan Yos Sudarso, yang merupakan nadi aktivitas ekonomi sekaligus jalur utama di Sangatta Utara. Ia menyoroti perlunya penataan parkir, ruang usaha, dan trotoar agar tidak menimbulkan kemacetan serta kesemrawutan visual kota.
“Contohnya, setiap orang yang berusaha di sepanjang Jalan Yos Sudarso, sosialisasikan, buka dong ruang parkir. Sebagian sudah ada yang punya ruang parkir, tapi sebagian lagi wajib lah,” tegasnya.
Berdasarkan data Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW) Kutai Timur, kawasan perkotaan Sangatta diproyeksikan menampung lebih dari 180 ribu penduduk dalam satu dekade mendatang. Pertumbuhan ini menuntut kesiapan infrastruktur dasar, termasuk jaringan jalan, drainase, ruang publik, dan sistem transportasi terpadu.
dr. Novel menilai, tanpa perencanaan yang disiplin dan konsisten, Sangatta berpotensi menghadapi persoalan klasik kota-kota berkembang: kemacetan kronis, banjir perkotaan, dan minimnya ruang terbuka hijau. Ia pun mengingatkan agar visi pembangunan daerah tidak hanya berorientasi pada proyek fisik, tetapi juga pada keteraturan tata ruang yang berkelanjutan.
“Sangatta ini wajah Kutai Timur. Kalau kita mau bicara kota modern, mulai dari keteraturan dulu—parkirnya, jalannya, lingkungannya. Itu tidak sulit asal ada kemauan. Tata kota jangan hanya kata-kata,” pungkasnya.
Dengan sinergi antara pemerintah daerah, pelaku usaha, dan masyarakat, dr. Novel Paembonan optimistis penataan kota dapat menjadi warisan penting dalam lima tahun mendatang—mewujudkan Sangatta yang lebih rapi, tertib, dan ramah bagi warganya. (ADV)













