SANGATTA – Mahasiswa dari sejumlah perguruan tinggi di Kutai Timur (Kutim) didorong untuk tidak sekadar menjadi pengguna teknologi, tetapi mampu memanfaatkannya sebagai sarana menciptakan inovasi. Pesan itu mengemuka dalam Aksara Fest 2026 yang digelar Sekolah Tinggi Agama Islam Sangatta (STAIS) melalui Himpunan Mahasiswa Jurusan Syariah di Ruang Tempudau, Kantor Bupati Kutim, Senin (27/7/2026).
Kegiatan bertajuk “Membangun Mahasiswa Adaptif melalui Kolaborasi, Kreativitas dan Inovasi Digital” tersebut dibuka Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Kutim Mulyono. Ia hadir mewakili Bupati Kutim Ardiansyah Sulaiman.
Aksara Fest melibatkan mahasiswa lintas kampus, di antaranya STAIS, STIE, dan STIPER. Selain menjadi ruang pengembangan kapasitas, kegiatan ini dirancang untuk memperkuat jejaring serta kolaborasi antarmahasiswa.
Ketua Himpunan Mahasiswa Jurusan Syariah STAIS sekaligus penanggung jawab kegiatan, Bella Putri Agustina, mengatakan peserta mendapatkan materi inspiratif dan praktik pemanfaatan teknologi digital, termasuk pengenalan kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI).
Menurut Bella, AI dapat membantu mahasiswa mengembangkan gagasan dan meningkatkan produktivitas. Namun, pemanfaatannya harus tetap disertai kemampuan berpikir kritis dan kreativitas.
“Teknologi harus digunakan untuk membantu mengembangkan ide dan menghasilkan karya yang lebih baik,” ujarnya.
Mulyono menilai kegiatan tersebut relevan dengan kebutuhan Kutim yang tengah menghadapi perubahan teknologi dan perkembangan kawasan sekitar Ibu Kota Nusantara (IKN). Ia mendorong kolaborasi perguruan tinggi, pemerintah, dunia usaha, dan masyarakat diperkuat.
Mahasiswa, kata dia, harus melihat teknologi sebagai peluang untuk menghasilkan inovasi yang memberi manfaat bagi daerah.
Melalui Aksara Fest, mahasiswa diharapkan memiliki bekal digital, kreativitas, kemampuan berkolaborasi, serta daya adaptasi untuk memasuki dunia kerja dan berkontribusi dalam pembangunan Kutim. (ADV/ProkopimKutim/KR)













