BENGALON — Ajakan itu disampaikan Bupati Ardiansyah Sulaiman di sela kegiatan syukuran pascapanen padi gunung varietas Mayas di Desa Persiapan Sekurau Atas, Bengalon. Tradisi masyarakat Dayak Basap tersebut sekaligus menjadi simbol kemandirian pangan di kawasan ini.
“Kami berharap perusahaan bisa ikut membantu menyediakan angkutan sekolah sebagai bentuk kepedulian sosial terhadap masyarakat sekitar. Ini langkah kecil tapi sangat berarti bagi masa depan anak-anak kita,” ujar Ardiansyah.
Menurut Bupati, transportasi pendidikan di wilayah terpencil seperti Sekurau Atas masih menjadi tantangan besar. Banyak anak-anak harus berjalan kaki cukup jauh atau menumpang kendaraan seadanya untuk sampai ke sekolah. Kondisi ini, kata dia, perlu mendapat perhatian bersama agar tidak menjadi penghalang bagi pemerataan pendidikan di Kutai Timur.
Pemerintah daerah membuka ruang sinergi bagi perusahaan, khususnya yang beroperasi di sekitar Bengalon, untuk mengarahkan program Corporate Social Responsibility (CSR) ke bidang pendidikan. Bentuknya bisa berupa bantuan kendaraan sekolah, perbaikan sarana belajar, maupun pelatihan bagi tenaga pendidik.
Menanggapi ajakan tersebut, Kepala Teknik Tambang PT Persada Inaka Kerta (PIK) Bengalon, Yohanes Didit (Pak Yo), menyatakan kesiapan pihaknya untuk berkolaborasi dengan Pemkab Kutim.
“Kami memahami pentingnya akses pendidikan bagi masyarakat sekitar. PT PIK siap menjajaki dukungan fasilitas transportasi sekolah sebagai bagian dari komitmen CSR kami. Pendidikan adalah investasi jangka panjang untuk masa depan generasi muda,” ucap Pak Yo.
Sejak beroperasi pada tahun 2007 di bawah Bayan Group, PT PIK aktif menjalankan berbagai program CSR di bidang lingkungan, infrastruktur, dan sosial kemasyarakatan. “Kami sudah lama membangun hubungan baik dengan warga. Dukungan terhadap pendidikan ini akan memperkuat kemitraan yang sudah terjalin,” tambah Pak Yo.
Kolaborasi antara pemerintah dan sektor swasta ini diharapkan mampu menjawab persoalan dasar masyarakat, termasuk akses menuju sekolah. Ardiansyah menegaskan, pendidikan adalah fondasi utama pembangunan manusia, dan dukungan dunia usaha merupakan bagian dari tanggung jawab moral terhadap daerah operasi mereka.
“Kita ingin anak-anak di pelosok Kutim merasakan kesempatan yang sama dengan anak-anak di kota. Perusahaan besar harus hadir lebih dari sekadar pelaku ekonomi, melainkan mitra kemanusiaan,” tutup Ardiansyah.
Melalui langkah nyata seperti ini, Kutai Timur memperlihatkan arah pembangunan yang inklusif—di mana kemajuan industri berjalan beriringan dengan kesejahteraan rakyat dan masa depan pendidikan generasi muda. (ADV/ProkopimKutim/K)













