SANGATTA – Upaya percepatan penurunan stunting di Kabupaten Kutai Timur (Kutim) terus diperkuat melalui kerja langsung di tingkat keluarga. Pemerintah daerah menempatkan Tim Pendamping Keluarga (TPK) sebagai ujung tombak dengan pola pendampingan dari rumah ke rumah untuk memastikan intervensi dilakukan sejak dini, terutama pada 1.000 hari pertama kehidupan anak.
Peran tersebut mengemuka dalam diskusi bertajuk Peran Tim Pendamping Keluarga dalam Percepatan Penurunan Stunting yang digelar di Room Podcast Kantor Dinas Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana (DPPKB) Kutim.
Kepala Bidang Ketahanan dan Kesejahteraan Keluarga DPPKB Kutim, Ani Saidah, mengatakan stunting tidak hanya berkaitan dengan pertumbuhan fisik, tetapi juga berdampak terhadap perkembangan otak, kecerdasan, hingga kualitas sumber daya manusia di masa depan. Karena itu, pendekatan berbasis keluarga menjadi strategi utama dalam penanganannya.
Menurut Ani, TPK yang terdiri atas bidan, kader PKK, dan kader KB memiliki peran strategis mendampingi empat kelompok sasaran, yakni calon pengantin, ibu hamil, ibu pasca-persalinan, serta balita hingga usia 59 bulan. Pemerintah daerah juga rutin menggelar bimbingan teknis guna meningkatkan kapasitas para kader.
Sementara itu, Pejabat Fungsional Teknik KKB DPPKB Kutim, Sulawati, mengungkapkan tantangan terbesar di lapangan justru berasal dari rendahnya kesadaran masyarakat. Tidak sedikit warga yang enggan menerima kunjungan kader atau menghadiri kegiatan posyandu.
Untuk mengatasi hal tersebut, kader mengedepankan pendekatan persuasif dan berkolaborasi dengan tenaga kesehatan. Di sisi lain, posyandu juga terus didorong menjadi ruang yang lebih ramah anak melalui penyediaan area bermain dan edukasi interaktif bagi orang tua. Menurut Sulawati, keberhasilan menekan angka stunting sangat bergantung pada sinergi pemerintah, kader, dan keterbukaan masyarakat menerima pendampingan. (ADV/ProkopimKutim/KR)













