
SANGATTA — Pemerintah Kabupaten Kutai Timur terus memperkuat komitmennya dalam bidang pendidikan dan pembinaan karakter religius. Salah satu terobosan yang segera diluncurkan adalah program beasiswa bagi hafiz dan hafizah Al-Qur’an, yang menjadi bagian dari 50 program kerja Bupati Kutim dalam fokus pembangunan sumber daya manusia (SDM) yang berakhlak dan berprestasi.
Anggota Komisi D DPRD Kutai Timur, Shabaruddin—politisi dari Partai Gelora—menyambut langkah tersebut dengan optimisme tinggi. Ia menilai program ini adalah investasi moral dan bentuk penghargaan terhadap generasi muda.
“Dalam 50 program kerja Pak Bupati, kini disiapkan beasiswa khusus untuk anak-anak kita yang ikut program tahfiz, penghafal Al-Qur’an. Ini adalah bentuk apresiasi dan dukungan nyata dari pemerintah daerah,” ujar Shabaruddin saat ditemui di Kantor DPRD Kutim.
Menurutnya, beasiswa ini harus dijalankan secara adil dan merata. Program ini tidak boleh dibatasi hanya bagi pelajar yang menempuh pendidikan di dalam wilayah Kutim saja. Ia berharap agar para pelajar asal Kutim yang menuntut ilmu di luar daerah pun tetap bisa mendapatkan kesempatan yang sama.
“Jika memungkinkan, jangan batasi wilayah. Semua anak kita yang memiliki KTP Kutai Timur, termasuk yang sedang belajar di luar daerah, perlu menerima beasiswa ini,” tegas politisi kelahiran Sangkulirang itu.
Program beasiswa tahfiz diharapkan menjadi bagian dari gerakan besar membangun generasi Qurani—anak-anak yang tidak hanya cerdas secara akademik, tetapi juga memiliki akhlak dan spiritualitas yang kuat. Data Dinas Pendidikan Kutim tahun 2024 mencatat, terdapat lebih dari 500 pelajar yang aktif mengikuti program tahfiz di sekolah formal dan pondok pesantren di 18 kecamatan.
Selain beasiswa tahfiz, Pemkab Kutim juga tengah menyiapkan beasiswa berprestasi dan bantuan pendidikan bagi siswa dari keluarga kurang mampu. DPRD Kutim, melalui Komisi D, berkomitmen memastikan seluruh program pendidikan tersebut berjalan transparan, tepat sasaran, dan memberikan manfaat nyata bagi masyarakat.
“Masih banyak anak-anak Kutai Timur yang berprestasi namun terbentur biaya. Dengan adanya program ini, mereka bisa terus belajar tanpa harus khawatir putus sekolah,” tambahnya.
Shabaruddin menilai, perhatian terhadap pendidikan harus menyentuh semua lapisan masyarakat—dari desa pesisir hingga pedalaman. Baginya, anak-anak hafiz tidak hanya simbol kesalehan, tetapi merupakan aset moral bagi daerah.
“Anak-anak ini nanti yang akan menjaga nilai-nilai luhur kita, menjaga Kutai Timur agar tetap berakhlak dan berilmu,” pungkasnya.
Dengan hadirnya beasiswa khusus tahfiz, Kutai Timur menegaskan arah pembangunan yang tak hanya mengejar kemajuan material, tetapi juga menanamkan nilai spiritual di jantung pendidikannya—sebuah langkah bermakna besar bagi masa depan generasi Qurani daerah ini. (ADV)













